PAMERAN DI JOGJA : Pameran Batu Mulia Digelar Setelah Tak Lagi "Booming", Perajin Harus Kreatif

Batu permata yang dijual sampai ratusan juta dipamerkan dalam kegiatan Pameran Batu Mulia dan Asesoris di Atrium Jogja City Mall, Kamis (13/10/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
14 Oktober 2016 16:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Pameran di Jogja digelar berupa pameran batu mulia

Harianjogja.com, JOGJA-Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY menggelar pameran batu mulia dan asesoris di Jogja City Mall, Kamis-Minggu (13-16/10/2016).

Kegiatan yang diikuti 100 perajin batu mulia asal DIY, Nusa Tenggara Barat, Jakarta, dan Jawa Barat ini bertujuan meningkatkan kembali bisnis batu mulia yang saat ini mengalami kelesuan.

Kepala Disperindag DIY Budi Antono mengatakan, beberapa waktu lalu batu mulia sempat booming dan berhasil mengantarkan batu mulia ke tingkat harga yang fantastis.

Namun saat ini kondisi itu sudah berlalu. Para pecinta batu mulia semakin memudar dan pameran pun semakin berkurang. "Harganya juga merosot. Perajin sedang mengalami kelesuan," katanya seusai acara pembukaan pameran, Kamis.

Saat mengalami kejayaannya, batu mulia atau yang lebih akrab di kalangan masyarakat dengan batu akik ini bisa dijual sampai jutaan rupiah tetapi saat ini merosot tajam hanya di level ratusan ribu rupiah.

Untuk itu, pameran ini diselenggarakan untuk memunculkan kembali minat masyarakat memiliki batu mulia sehingga melalui transaksi bisa meningkatkan nilai jual batu mulia kembali.

Bersambung halaman 2

Menurutnya, dibutuhkan daya kreativitas tinggi dari perajin agar kerajinan batu mulia diminati pasar. Kreativitas tersebut bisa dari sisi warna batu yang digunakan hingga memodifikasi emban khas DIY dengan emban Nusa Tenggara Barat atau daerah lainnya.

Masa kejayaan batu mulia beberapa waktu lalu sempat menyeret masyarakat yang sebelumnya tidak menyukai batu mulia menjadi ikut berbondong-bondong membeli dan mengoleksinya.

Di satu sisi, kondisi ini menguntungkan perajin batu mulia karena permintaan meningkat dan harga ikut terkerek. Namun, kondisi ini membawa dampak buruk bagi perajin batu mulia yang memproduksi barang kelas premium seperti batu permata.

Ronald misalnya, pemilik usaha Kayana Jewelry yang menjual cincin perpaduan batu mulia dan permata ini harus kehilangan omzet besar karena booming batu mulia beberapa waktu lalu.

"Sebelum booming batu mulia, omzet stabil. Waktu booming, omzet ikut naik tapi dikit. Setelah booming, omzet turun 95 persen sampai sekarang karena orang pada trauma dengan batu mulia karena harganya anjlok," ujarnya.

Sebagai penjual produk premium batu permata, ia memasang harga sesuai standar internasiobal batu permata sehingga harganya stabil. Ia menjual mulai jutaan sampai ratusan juta rupiah.

Sementara batu mulia biasa seperti akik harganya anjlok hanya di level ratusan juta rupiah. Meski secara bahan dan kualitas beda, tetapi masyarakat kemudian ikut terpengaruh dan memilih untuk tidak membeli batu permata.