PILKADES DI BANTUL : Hari Ini Pemungutan Suara, Waspadai Politik Uang dan Konflik Horizontal

Ilustrasi pemberian suara pemilihan umum (JIBI/Solopos/Antara - Dok.)
23 Oktober 2016 09:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Pilkades di Bantul masuk tahap puncaknya hari ini

Harianjogja.com, BANTUL-Dari total 75 desa di Bantul, Minggu (23/10/2016) pagi ini 22 desa diantaranya secara serempak akan menggelar Pemilihan Lurah Desa (Pilurdes).

Setelah menggelar persiapan secara bertahap mulai dari pendaftaran dan seleksi bakal calon hingga penetapan calon, warga kini memiliki kesempatan untuk memilih pemimpinnya di tingkat desa untuk enam tahun ke depan.

Sayangnya, pelaksanaan pesta demokrasi di tingkat desa itu masih jauh dari kata sempurna. Politik uang sepertinya masih menjadi tradisi buruk yang belum bisa dilepaskan oleh masyarakat.

Pemerhati Pilurdes Bantul Herlina bahkan yakin bahwa politik transaksional macam itu besar kemungkinan terjadi di semua desa. Ia khawatir, jika hal ini tak segera diatasi, bukan hanya menyebabkan memperburuk proses demokrasi, nantinya juga akan berimbas pada munculnya gangguan keamanan san ketertiban nasional (kamtibmas).

Sejauh ini, dugaan politik uang yang sempat muncul ke permukaan adalah aksi bagi-bagi roti oleh dua calon lurah di Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong. Kondisi diperparah dengan tak kuasanya pihak Panitia Pelaksana Pilurdes Seloharjo dalam mengatasi dugaan itu.

Seperti yang diberitakan, meski telah mengetahui adanya dugaan praktik politik uang, namun kenyataannya pihak Panitia Pelaksana Pilurdes Seloharjo hanya bergeming. Mereka hanya menegur secara lisan tanpa memberikan sanksi apa-apa.

Menurut Herlina ini adalah bukti lemahnya pengawasan terhadap berjalannya proses demokrasi di tingkat bawah. Selain regulasi yang lemah, peran serta tokoh masyarakat juga dinilainya rendah dalam mengawasi proses demokrasi tersebut.

"Karena memang tidak ada panwas [Panitia Pengawas], maka peran pengawasan kini ada di tangan tokoh masyarakat, pejabat setempat, dan aparat keamanan," kata perempuan yang juga mantan anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Bantul itu.

Tak hanya itu, ia pun menyayangkan dengan adanya fenomena pasangan suami istri yang saling bertarung di desa yang sama, yakni di Desa Tirtomulyo, Kecamatan Kretek. Menurutnya, dengan alasan tak adanya calon selain keduanya, adalah alasan yang tak masuk akal.

Ditegaskannya, paradigma masyarakat tentang calon harus yang berduit banyak, harus diubah. Baginya, yang terpenting dalam pertarungan Pilkades adalah visi dan misi serta komitmen untuk maju bersama masyarakat. "Orientasi dan paradigna inilah yang harusnya perlahan mulai diubah," tegasnya.