KISAH UNIK : Wow, Biaya Pawang Hujan Capai Rp2,5 Juta

Sujarwo, 62, kerap membantu klien menangkal hujan. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
29 Oktober 2016 23:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Kisah unik mengenai pawang hujan di Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA -- Kehadiran pawang hujan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi kalangan event organizer. Uang jutaan rupiah pun rela dikeluarkan demi mendapatkan cuaca yang cerah dan bersahabat.

Percaya tidak percaya. Begitulah tanggapan para pelaku bisnis event organizer dan wedding organizer saat ditanya soal pawang hujan. Di satu sisi, mereka meyakini hujan adalah kuasa Tuhan. Namun di sisi lain, tak bisa disangkal pawang hujan selalu menjadi kebutuhan dalam acara mereka, terutama acara outdoor. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini, pengeluaran untuk membayar jasa pawang hujan pun harus ada dalam daftar keuangan mereka.

Tak tanggung-tanggung, uang jutaan rupiah sengaja disisihkan untuk urusan menangkal hujan. “Mulai Rp1,5 juta sampai Rp2,5 juta,” kata Eko Sutarmo dari Jogjapro Event Organizer belum lama ini.

Tak hanya mahal, pawang hujan terkadang juga susah dicari. Bak membeli tiket kereta api, siapapun yang ingin menggunakan jasa pawang hujan saat musim hujan seperti sekarang, harus memesan jauh-jauh hari karena pawang hujan akan laris mendapat panggilan di sana-sini.

Owner H’Ney Wedding Organizer, Mei Rani Ekaningrum, asal Wonocatur, Banguntapan, Bantul, bahkan harus meluangkan waktu paling tidak seminggu sebelum acara, hanya untuk memesan pawang hujan.

Dalam daftarnya, sudah ada tiga alternatif pawang hujan langganan dari daerah Keraton Jogja, Bantul, dan satu lagi dari pinggiran Jogja. Ketiganya memasang tarif yang berbeda, ada Rp1,5 juta, ada pula yang hanya Rp700.000. Besar kecilnya tarif bukan berdasarkan tingkat keberhasilan pawang tetapi lebih pada seberapa banyak pelanggan dan seberapa terkenalnya pawang hujan itu di kalangan masyarakat. “Nyatanya saya pernah pakai yang Rp1,5 juta atau Rp700.000 juga tetap berhasil. Biasanya yang terkenal itu lebih mahal,” tutur perempuan yang ahli merias ini.

Saat menyewa pawang hujan, seluruh piranti dan sesaji disediakan sendiri oleh sang pawang. Ada yang membawa keris, ada pula yang membawa tombak. Ada pula pawang yang meminta pihak EO untuk menyediakan sesajinya sementara tugas pawang tinggal mendoakan.Persiapan Pawang Hujan
Sujarwo misalnya, pria 62 tahun yang kerap membantu menangkal hujan ini meminta kliennya menyediakan kembang setaman, pisang raja, serta tumpeng yang diberi bawang merah dan cabai merah. Semuanya itu memiliki makna untuk memperkuat permohonan agar tidak hujan.

Kembang setaman terdiri dari mawar merah dan putih simbol ibu dan bapak, kenanga bermakna keinginan tercapai, kantil bermakna melekat, dan melati bermakna yakin bahwa keinginan untuk tidak turun hujan akan tercapai. “Ada juga yang pakai sapu lidi di atasnya ditancapi bawang merah dan bawang putih, yang artinya mengembalikan kembali ke atas,” katanya di rumahnya di Sagan, Terban. Sementara pisang raja adalah sesaji yang ditujukan bagi leluhur di lokasi acara agar ikut memberikan restu agar tidak turun hujan untuk sementara waktu. Tumpeng sendiri bisa dimakan bersama-sama oleh para penyelenggara acara dan sebagai ungkapan syukur karena air hujan juga memberi rejeki untuk mereka.

Keahliannya menangkal hujan bukan berhubungan dengan ilmu hitam, klenik, ataupun hasil berguru, tetapi hasil usahanya bersahabat dengan alam. Sejak aktif menjadi pecinta alam tahun 1982, ia terbiasa berkomunikasi dengan alam. Dengan angin, katanya, ia biasa meminta untuk tidak sampai terjadi badai.

“Mbah, putumu meh liwat, minggiro sik [Mbah, cucumu mau lewat, minggir dulu],” tutur pria yang keesehariannya berprofesi sebagai tukang pijit dan tusuk jarum ini.

Hal itu pun juga ia lakukan pada klien yang meminta tidak terjadi hujan. Ia berbicara pada angin dan hujan untuk tidak melewati daerah tempat terselenggaranya acara. Tak seperti pawang lain yang sampai datang ke lokasi acara untuk berdoa dan bahkan bertapa untuk menangkal hujan, Sujarwo atau Pak Wok ini justru tinggal di rumahnya dan melakukan kegiatan seperti biasanya. Dalam komunikasinya dengan angin dan hujan, ia meminta agar hujan tidak turun selama acara berlangsung. “Kalau acaranya selesai jam 12.00 WIB lalu hujan, yo wis, selesai,” ujar pria alumni Fakultas Sastra angkatan 1974 ini.

Kemampuannya itu bukan menjadi mata pencaharian pokoknya sehingga ia tak memasang tarif. Kliennya yang selama ini datang dari berbagai penjuru hanya memberikan imbalan sukarela. Selama membantu klien menangkal hujan, sebagian permintaan berhasil. Hujan pun tak turun selama acara.