EKONOMI KREATIF : Kreasikan Koran Bekas jadi Tas Tahan Air

Pemilik Dluwang Newspaper Story Briane Novianti Syukmita menunjukkan sandal dari kertas koran yang ia pamerkan di Malioboro Mall, Jumat (28/10/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
31 Oktober 2016 22:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Ekonomi kreatif untuk memanfaatkan limbah menjadi barang baru berguna

Harianjogja.com, JOGJA -- Belum lama ini, seorang perempuan muda bernama Briane Novianti Syukmita, 26, menjadi pemenang dalam lomba Dekranas Kota Yogyakarta (Dekoya) Award kategori Original Product. Ia menang atas karyanya mengolah koran, majalah, dan tabloid bekas menjadi tas, sandal, boks tisu, gantungan kunci, dan kerajinan bernilai jual lainnya.

Ditemui saat mengikuti pameran Sumpah Pemuda di Malioboro Mall, Jumat (28/10/2016), alumni S-1 Filsafat UGM ini sudah memulai bisnisnya sejak 2012. Awal mulanya, ia hanya iseng menggulung-gulung kertas koran dan kemudian ia rangkai menjadi sebuah tas. Saat itu, tas kertas koran buatannya justru bisa terjual Rp30.000-Rp50.000. Karena semakin banyak peminatnya, ia pun mempekerjakan para ibu rumah tangga untuk membantunya menggulung-gulung kertas bekas.

Sudah ada 30 perempuan yang membantunya hanya untuk tenaga penggulung kertas, belum termasuk tukang tenunnya karena koran bekas yang sudah digulung kemudian ditenun di daerah Seyegan. Proses tenun menurutnya masih jarang diterapkan perajin koran bekas di DIY, rata-rata mereka hanya menggunakan teknis menganyam. Novi juga tidak menerapkan proses peleburan dan penggunaan cat agar wujud asli koran tetap terlihat.

Awal prosesnya, kertas yang disuplai dari beberapa orang itu digulung. Ada yang di isi lidi, ada pula yang tidak. Biasanya, gulungan berisi sapu lidi digunakan untuk membuat boks tisu yang memiliki bentuk siku, sementara gulungan tanpa lidi digunakan untuk membuat tas dan sandal agar lentur dan dapat dibentuk.

Gulungan lidi tersebut kemudian ditata dan ditenun sampai berbentuk lembaran. Biasanya, untuk lembaran kertas majalah memiliki lebar 30 cm dan panjangnya sampai 10 meter, sementara lembaran kertas koran berlebar 50 cm dan panjangnya juga 10 meter.

"Kalau sudah dalam bentuk lembaran, baru kita potong-potong untuk dibentuk," tuturnya.Antiair

Meski terbuat dari kertas, namun produk yang ia beri merek Dluwang Newspaper Story ini bersifat antiair karena sudah diberi lapisan akrilik yang berfungsi menahan air. "Kena hujan tetap aman," lanjutnya.

Dulu, Novi kerap mengombinasikan material mendong untuk membuat tas tetapi sekarang ia lebih banyak menggunakan material kulit imitasi atau vinyl. Hal ini dilakukan seiring keinginannya merambah ke segmentasi menengah atas. Untuk tas ia jual mulai Rp40.000-Rp250.000, sandal Rp20.000, suvenir mulai Rp1.000, gelang Rp5.000, dan frame foto Rp7.000.

Kapasitas produksi sandal dalam waktu dua minggu bisa mencapai 100 pasang sementara untuk tas mencapai 50 buah. Selain memasarkan secara offline dengan menitipkan produknya ke beberapa galeri di Jogja, ia juga menjual barang secara online. Pasar terbesarnya ada di Jakarta dan Jawa Barat. Menurutnya pasar di Jogja sendiri tidak terlalu pesat karena para kreator kerajinan banyak berasal dari Jogja. Ia juga pernah ekspor sampai Amerika.

Perempuan yang membuka produksi dan gerainya di Ledok Tukangan DN 2/257 RT 1/RW 1 Jogja di banyak menjuarai berbagai lomba seperti Wirausaha Muda Prestasi dan Inovasi Bisnis yang diadakan Balai Pemuda Olahraga DIY.