INFRASTRUKTUR BANTUL : Bendung Karang Jebol, 2 Desa akan Dipertemukan

JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoSejumlah petani menanam padi di areal persawahan di Kretek, Bantul, DI. Yogyakarta, Kamis (02/01 - 2014). Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menyampaikan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) DIY pada Desember 2013 mencapai angka 103,15 atau mengalami penurunan sebesar 0,57% dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya. Sedang harga gabah kualitas GKP sebesar Rp 4.556 per kilogram di tingkat petani, atau turun 3,71% dari bulan sebelumnya.
31 Oktober 2016 13:55 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Infrastruktur Bantul berupa bendung di antara Tirtohargo dan Donotirto jebol

Harianjogja.com, BANTUL-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul terus mendesak pihak Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSSO) untuk segera menindaklanjuti jebolnya Bendung Karang yang berada di Desa Donotirto.

Mereka meminta pihak BBWSSO untuk sesegera mungkin melakukan penambalan terhadap bendung yang jebol beberapa hari lalu.

Kepala Seksi Operasi Jaringan Irigasi Dinas Sumber Daya Air (SDA) Bantul Yitno menegaskan, pihak BBWSSO memang harus segera mengambil tindakan terhadap lubang yang menganga di bendung tersebut.

Pasalnya, jika nanti intensitas hujan menurun, bisa dipastikan ratusan hektar lahan yang ada di Desa Tirtohargo dan sebagian di Desa Donotirto akan mengalami kekeringan.

Itulah sebabnya, sembari menunggu keputusan dari BBWSSO, pihaknya akan mengambil inisiatif untuk mencari solusi sementara terhadap persoalan itu. Salah satunya adalah dengan memfasilitasi pertemuan antara pihak petani serta Pemerintah Desa (Pemdes) dari Tirtohargo dan Donotirto.

“Rencananya dalam pekan ini kami akan fasilitasi pertemuan antara mereka,” katanya kepada Harianjogja.com, Minggu (30/1/2016) siang.

Bersambung halaman 2

Untuk sementara ia memiliki ide untuk mengambil air dari Desa Donotirto untuk menyuplai kebutuhan air di Desa Tirtohargo yang terdampak jebolnya bendung tersebut. Dikatakannya, di Desa Donotirto juga terdapat bendung, yakni Bendung Mojo yang selama ini memang diandalkan oleh sebagian besar lahan di kawasan desa tersebut.

Terkait hal itu, Kepala Desa Donotirto Jurahimi justru menjelaskan, debit air yang ada di Bendung Mojo selama ini memang tak sebesar yang ada di Bendung Karang. Oleh karena itu, jika harus menyuplai kebutuhan air untuk lahan di Tirtohargo, ia tak yakin debit air di Donotirto akan mencukupi. “Wong untuk menyuplai lahan di Donotirto yang luasnya mencapai sekitar 200 hektaran saja pas-pasan,” katanya.

Jurahimi menjelaskan, jebolnya Bendung Karang tak hanya berdampak pada ratusan lahan di Tirtohargo saja, melainkan sebagian hektar juga merupakan wilayah lahan milik Kelompok Tani (Poktan) Kalipakel Desa Donotirto.

Oleh karena itulah, ia menyambut baik adanya fasilitasi yang dilakukan oleh pihak Dinas SDA untuk mempertemukan pihaknya dengan pihak Desa Tirtohargo. Melalui pertemuan itu, ia berharap nantinya bisa ditemukan solusi terbaik yang tak merugikan pihak manapun. “Selama ini hubungan antara kami dan Tirtohargo sudah terjalin sangat baik. Jangan sampai gara-gara persoalan ini bisa timbul masalah,” katanya.