Kehancuran Ekologi RI di Balik Transisi Energi Disuarakan di COP30
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Sejumlah peneliti menyusuri Sungai Oya yang melintasi wilayah Gunungkidul beberapa waktu lalu untuk mencari bukti-bukti peradaban manusia zaman purba. (Foto istimewa dokumen Indah Asikin Nurani, Balai Arkeologi DIY)
Manusia purba di Gunungkidul ditelusuri
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Sepuluh peneliti dari Balai Arkeologi DIY menelusuri jejak manusia purba yang pernah hidup di sepanjang Sungai Oya Kabupaten Gunungkidul.
Penelusuran di puluhan titik lekukan sungai menemukan titik terang, adanya kehidupan manusia purba yang hidup berpindah-pindah kala itu. Di satu titik lekukan, tim peneliti hanya menemukan bahan baku benda-benda pra sejarah. Di titik lainnya, peneliti hanya menemukan benda-benda yang sudah jadi atau diolah namun tiada bahan baku.
“Kadang ada juga di satu titik ada bahan baku dan ada barang olahannya yang ditemukan,” ujar Indah Asikin Nurani, Ketua Tim Peneliti Sungai Oya dari Balai Arkeologi DIY di Desa Ngleri, Playen, Gunungkidul itu, Rabu (16/11/2016) siang.
Arkeolog lulusan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM itu mengungkapkan penggalian terhadap setting atau tempat-tempat aktifitas manusia purba itulah yang membedakan penelitian Indah dan timnya dengan riset terdahulu.
Sebelumnya, di era 1990-an, tim peneliti dari UGM juga pernah menemukan artefak di Sungai Oya yang disebut sebagai sungai purba.
“Penelitian saat itu tidak berfokus di Sungai Oya, namun juga sungai di Pacitan [Jawa Timur], jadi hanya menemukan sampel ya sudah. Kali ini, kami ingin menggali setting atau tempat-tempat aktifitas manusia purba di sungai ini,” tuturnya lagi.
Sayangnya, para peneliti tak menemukan fosil manusia purba yang tertinggal di Sungai Oya, meski puluhan benda hasil kebudayaan itu kian menguatkan keyakinan adanya peradaban manusia purba di Sungai Oya. Fosil manusia purba diperkirakan lenyap ke dalam bumi akibat proses perubahan alam.
“Atau mungkin berpindah tempat. Kita tahu di daerah Sangiran [Sragen, Jawa Tengah] ditemukan fosil manusia purba. Tapi kemana pastinya mereka bergerak belum diketahui,” kata perempuan yang melanjutkan pendidikan master di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung itu.
Menyingkap satu persatu cerita peradaban manusia purba di Sungai Oya bukan satu-satunya temuan berharga. Perjalanan melelahkan selama dua pekan itu juga meninggalkan pesan, akan kehidupan harmonis yang dilalui manusia purba.
Harmonisasi antara alam dan manusia pra sejarah terasa jejaknya hingga saat ini. Manusia-manusia purba itu boleh saja mencipta berbagai artefak dan kebutuhan hidup mereka, namun mereka tak merusak lingkungannya.
“Tidak ada kerusakan alam yang mereka tinggalkan. Manusia purba itu tidak serakah seperti manusia sekarang. Karena mereka hidup sangat bergantung dengan alam. Ekstremnya, mereka tidak mengendalikan alam, tapi alam yang mengendalikan mereka. Manusia sekarang harusnya belajar dari peradaban manusia purba,” Indah menutup kisahnya dengan senyuman lebar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Xiaomi membatalkan proyek ponsel ultra-tipis Xiaomi 17 Air karena tak ingin mengorbankan performa, baterai, dan kualitas pengguna.
Komnas HAM mendorong pengusutan tuntas kasus kekerasan anak di Daycare Little Aresha Jogja. Polisi buka peluang tersangka bertambah.
Kemkomdigi memblokir 3,45 juta situs judi online sejak Oktober 2024. Perputaran dana judol 2025 tercatat Rp286 triliun.
Pratama Arhan memperkenalkan Inka Andestha sebagai kekasih barunya lewat unggahan romantis di Instagram usai resmi bercerai dari Azizah Salsha.
Sony resmi membawa PS5 Pro ke Indonesia mulai 20 Mei 2026 dengan harga Rp15,499 juta. Ini spesifikasi, fitur AI, dan peningkatannya.