Hujan Sepanjang Tahun, Dana Bantuan Air Bersih Gunungkidul Banyak Tak Terpakai

Warga Desa Sumberwungu, Tepus sedang mengantre air yang disalurkan oleh Kepolisian DIY dengan menggunakan water canon, Jumat (18/9/2015). (JIBI/Harian Jogja - Uli Febriarni)
20 November 2016 12:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Hujan sepnajang tahun menyebabkan dana bantuan air bersih di Gunungkidul tidak terpakai

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Kemarau basah yang terjadi di tahun ini berdampak terhadap proses penyaluran air bersih di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Gunungkidul. Hal itu terlihat dari anggaran yang dimiliki, dimana hanya terpakai tidak lebih dari 20% dari yang tersedia.

Kepala Bidang Sosial, Dinsosnakertrans Gunungkidul Ch Suyatmiyatun mengatakan, tahun ini menyediakan anggaran dropping air sebanyak Rp630 juta. Namun jumlah tersebut tidak terpakai semua, sehingga mayoritas anggaran masih tersimpan di kas daerah.

"Banyak yang tidak diambil, karena untuk proses penyaluran di tahun ini hanya butuh biaya sekitar Rp75 juta," kata Atun kepada Harianjogja.com, Sabtu (19/11/2016).

Menurut dia, minimnya anggaran dropping yang tak terpakai dikarenakan fenomena kemarau basah yang terjadi di tahun ini. Akibanya, hujan yang turun di sepanjang tahun itu membuat kebutuhan air warga bisa tercukupi, khususnya yang tinggal di daerah kering seperti Tepus, Girisubo dan Rongkop.

Dampak dari fenomena ini, lanjut Atun, membuat dinas tidak mengajukan anggaran tambahan di APBD Perubahan 2016. "Kondisi tahun ini berbeda dengan yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya di pembahasan anggaran perubahan mengajukan tambahan, tapi untuk tahun ini tidak dilakukan," ungkapnya.

Sisa anggaran sekitar Rp555 juta itu tidak akan diambil dan tidak digunakan lagi sehingga dimasukan sebagai Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) 2016. "Proses dropping tidak mungkin dilakukan lagi, sehingga sisa dana yang ada tidak akan diambil," katanya.