BENCANA JOGJA : Cuaca Ekstrem, Jogja Belum perlu Status Tanggap Darurat, Ini Alasannya

Petugas dari Satuan Keamanan Kampus (SKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) masih melakukan upaya pemotongan pohon yang merintangi jalan depan RSUP dr Sardjito, Sabtu (8/10/2016). (Arief Wahyudi/JIBI - Harian Jogja)
22 November 2016 15:55 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Bencana Jogja masih dianggap belum perlu status tanggap sarurat

Harianjogja.com, JOGJA- Kepala Pelaksana BPBD DIY, Krido Suprayitno mengatakan kenaikan status penanganan bencana harus melalui kajian, salah satunya apabila ada peningkatan intensitas di wilayah terdampak dan akibat yang ditimbulkan cukup banyak.

Kebijakan peningkatan status tanggap drurat bencana pun menjadi kewenangan masing-masing kepala daerah kabupaten dan kota.

Ia juga menilai status tanggap darurat bencana belum perlu. Saat ini pihaknya masih terus memantau dan mengupdate peristiwa bencana sejak 10 November-31 Januari mendatang sebagai bahan kajian.

Dalam catatan Pusat Pengendalian Operasional BPBD DIY telah terjadi puluhan bencana selama periode siaga bencana yang diakibatkan angin kencang dan tanah longsor.

Bahkan bencana pada Senin (21/11/2016) merupakan terparah selama masa Siaga bencana. "Sampai tadi malam pukul 24.00 WIB [malam kemarin] terpantau ada 46 titik peristiwa di Kot Jogja dan Bantul," kata Krido, dalam jumpa pers, kemarin.

Bersambung halaman 2, http://www.harianjogja.com/baca/2016/11/22/bencana-jogja-cuaca-ekstrem-jogja-belum-perlu-status-tanggap-darurat-ini-alasannya-770874/2">wilayah terparah...


Menurut Krido, untuk wilayah Kota Jogja, terparah di Kecamatan Umbulharjo, tepatnya di wilayah Nitikan dan Umbulharjo. Dua baliho roboh dan sejumlah pohon tumbang melintang sampai jalan raya di dua wilayah tersebut.

Menurut Krido, untuk wilayah Kota Jogja, terparah di Kecamatan Umbulharjo, tepatnya di wilayah Nitikan dan Umbulharjo. Dua baliho roboh dan sejumlah pohon tumbang melintang sampai jalan raya di dua wilayah tersebut.

Kemarin, BPBD bersama relawan bencana kembali ke lokasi untuk melakukan evakuasi sisa-sisa pohon serta memperbaiki instalasi listrik yang putus tertimpa pohon.

"Di bantul terjadi di dua kecamatan, Sewon dan Banguntapan. Dominasi pohon tumbang," kata dia.

Krido menyatakan upaya yang dilakukan sementara adalah evakuasi pohon tumbang, perbaikan listrik, pembersihan gorong-gorong dan drainasi, serta pengiriman logistik dengan total anggaran sekitar Rp250 juta. Sementara untuk kerusakan fisik akibat bencana tersebut baru akan didata dan diusulkan melalui dinas terkait.

Pelaksana tugas Walikota Jogja, Sulistyo menegaskan Pemerintah Kota Jogja tidak akan lepas tangan jika ada warganya yang menjadi korban bencana meski dalam status siaga darurat.

Sulistyo mengaku masih melakukan kajian untuk meningkatkan status siaga bencana ke tanggap darurat bencana.