KEBOCORAN RETRIBUSI : Ini Ciri Tiket Wisata Asli

Aktivitas penarikan retribusi di pintu utama Pos Retribusi Baron. (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
26 November 2016 13:21 WIB Bhekti Suryani Gunungkidul Share :

Kebocoran retribusi di Gunungkidul mungkin masih terjadi.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Tiket masuk retribusi wisata pantai selatan Gunungkidul rawan dipalsukan. Modus baru kebocoran retribusi wisata belakangan diketahui menggunakan tiket bekas.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/11/24/kebocoran-retribusi-modus-baru-terungkap-apa-itu-771523">KEBOCORAN RETRIBUSI : Modus Baru Terungkap, Apa Itu?)

Sekretaris DPPKAD Gunungkidul Edi Basuki mengatakan, karcis retribusi wisata hanya dicetak di percetakan biasa bukan milik negara. Kendati demikian, pemerintah kata dia sudah melengkapi tiket tersebut dengan ciri khusus agar tidak mudah dipalsukan.

“Di tiket itu ada semacam bolong-bolong kecil namanya porporasi, itu sengaja dibuat seperti itu agar tidak mudah dipalsukan,” jelas Edi Basuki.

Ikhwal tiket tanpa keterangan tanggal menurutnya, selama ini pengisian tanggal diserahkan ke petugas TPR. Namun ia yakin, tidak ada pegawai pemerintah yang mencoba memalsukan tiket tersebut. Sedangkan mengenai kebocoran retribusi wisata, Edi mengklaim pembinaan di TPR bukan kewenangan lembagaanya melainkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Sebelumnya, Komisi B  mengungkapkan modus baru kebocoran retribusi melalui penjualan tiket bekas. Dewan mengumpulkan rekaman wawancara dengan warga pesisir mengenai praktik kebocoran retribusi. Para warga dan tukang parkir dalam temuan itu disebut diminta petugas Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) mengumpulkan tiket bekas yang dibuang oleh wisatawan setelah melewati pintu TPR. Tiket bekas itu dijual separuh harga ke petugas TPR, lalu disetrika dan dijual kembali ke wisatawan dengan harga normal. Kebocoran retribusi itu melibatkan masyarakat pesisir, petugas TPR hingga tukang parkir.