TAMBANG BREKSI BANTUL : Reklamasi & Konservasi Perlu Segera Dilakukan

Akibat aktivitas pertambangan di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, terbentuk kubangan air dan jurang sedalam belasan meter. foto diambil pada Senin (5/12/2016). (Irwan A. Syambudi/JIBI - Harian Jogja)
07 Desember 2016 01:20 WIB Irwan A Syambudi Bantul Share :

Tambang Breksi Bantul perlu dipulihkan untuk menghindari bencana.

Harianjogj.com, BANTUL -- Lahan pertambangan batu breksi di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret diketahui mengalami kerusakan hingga tingkat sedang. Sejumlah titik diketahui telah menimbulkan lubang yang membahayakan dan perlu adanya pemulihan lingkungan dengan cara reklamasi dan konservasi.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/12/05/kecelakaan-bantul-sudah-ada-4-korban-di-lubang-tambang-774361">KECELAKAAN BANTUL : Sudah Ada 4 Korban di Lubang Tambang)

Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan Hidup dan Konservasi Sumber Daya Alam, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bantul, Sunarso menyebut pemulihan lingkungan akibat pertambangan perlu dilakukan, dengan cara reklamasi dan konservasi. Kata dia, kerusakan lingkungan akibat pertambangan tidak hanya terjadi di Desa Segoroyoso saja.

“Tersebar hampir di seluruh Bantul,” kata Sunarso saat ditemui di kantornya, Selasa (6/12/2016).

Namun pihaknya mengaku tidak memiliki data pasti terkait dengan kerusakan lingkungan yang terjadi akibat pertambangan di Bantul. Sunarso beralasan BLH memiliki keterbatasan dan memang tidak memiliki petugas khusus yang melakukan pengawasan terhadap praktek pertambangan.

Kendati demikian, dia mengklaim sebagian lokasi pertambangan yang menyebabkan kerusakan lingkungan pernah ditangani oleh BLH.

“Kami pernah mencoba mereklamasi daerah-daerah tertentu seperti di Dusun Siluk, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri yang sebagian merupakan lahan tambang yang kondisinya kritis.,” jelanya.