TAMBANG BREKSI BANTUL : Lahan Rusak & Makan Korban, Perbaikan Tunggu Inisiatif Warga

Akibat aktivitas pertambangan di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, terbentuk kubangan air dan jurang sedalam belasan meter. foto diambil pada Senin (5/12/2016). (Irwan A. Syambudi/JIBI - Harian Jogja)
07 Desember 2016 08:55 WIB Irwan A Syambudi Bantul Share :

Tambang Breksi Bantul perlu dipulihkan untuk menghindari bencana.

Harianjogj.com, BANTUL -- Lahan pertambangan batu breksi di Dusun Srumbung, Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret diketahui mengalami kerusakan hingga tingkat sedang. Sejumlah titik diketahui telah menimbulkan lubang yang membahayakan dan perlu adanya pemulihan lingkungan dengan cara reklamasi dan konservasi.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/12/05/kecelakaan-bantul-sudah-ada-4-korban-di-lubang-tambang-774361">KECELAKAAN BANTUL : Sudah Ada 4 Korban di Lubang Tambang)

Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan Hidup dan Konservasi Sumber Daya Alam, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bantul, Sunarso mengatakan meskipun dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan di Srumbung jelas dan menimbulkan korban jiwa akibat tenggelam di lubang tambang, pihaknya masih akan menunggu inisiatif warga untuk langsung melakukan pengajuaan reklamasi, ataupun konservasi dengan melakukan penanaman kembali lahan tambang.

Adapun kerusakan lingkungan tersebut juga diperkuat dengan sejumlah hasil penelitian. Salah satunya penelitian yang dilakukan Agus Candra, Sri Budiastuti dan Sunarto dari Magister Ilmu Lingkungan Program Paskasarjana Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) pada 2014. Penelitian itu menyimpulkan aktivitas penambangan breksi di Dusun Srumbung telah menimbulkan kerusakan lingkungan fisik meliputi kerusakan sedang (harkat dua).

Dalam penelitian itu disebutkan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas tambang mencapai Rp1,1 miliar. Nilai itu merupakan jumlah biaya yang diperlukan untuk melakukan pemulihan lingkungan meliputi pengendalian erosi dan limpasan, penimbunan bekas tambang, hingga pemulihan vegetasi.
Alternatif Pekerjaan

Terpisah Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogja, Halik Sandera mengatakan adanya dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh praktek pertambangan harus ditanggapi dengan serius oleh pemerintah.

Pasalnya dia menyebut pendapatan dari hasil tambang kerugian akan lebih besar saat terjadi kerusakan lingkungan.Dia menambahkan jika memang tambang kini menjadi mata pencarian warga dan telah menjadi tumpuan perekonomian. Pemerintah harus segera mencari solusi.

“Saya tidak yakin bahwa tambang merupakan mata pencaharian utama warga. Pemerintah harusnya bisa mengembangkan sektor lain seperti peternakan, perkebunan, atau pertanian yang berkelanjutan dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan,” ujarnya.