KEKERASAN JOGJA : Soal Tawuran Pelajar, Ini Pesan Sultan

Gubernur DIY, Sultan Hamengkubuwono X saat memberikan kuliah umum mahasiswa baru STIPRAM di Hotel Sahid Raya, Babarsari, Sleman, pada Senin (8/8/2016). (Irwan A. Syambudi/JIBI - Harian Jogja)
17 Desember 2016 10:20 WIB Sunartono Jogja Share :

Kekerasan Jogja diharapkan tak lagi terulang

Harianjogja.com, JOGJA -- Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta kepada semua pihak untuk tidak melakukan aksi balas dendam terkait pertikaian antar pelajar akhir-akhir ini. Sultan bahkan mengetahui adanya sekolah yang menjadi musuh bebuyutan dari sekolah lain sejak lama. Ia berharap kekerasan pelajar yang menelan korban jiwa itu terakhir kalinya terjadi di Jogja.

Sultan mengatakan, apapun alasannya, balas dendam tidak menyelesaikan masalah. Jika masih ada pihak yang berani melakukan balasan, harus ditindak tegas karena pelanggaran hukum. Penegakan hukum menjadi satu-satunya cara untuk memutus mata rantai permusuhan itu. Kasus itu tidak bisa lagi dilihat sebagai kenakalan remaja melainkan tindak pidana.

"Kita kan tahu, ini kan Bopkri sama Muhi itu kan sudah punya dendam bertahun-tahun tidak pernah selesai. Sekarang penegakan hukum sebagai suatu dasar untuk memutus rantai itu," tegasnya di Kompleks Kepatihan, Jumat (16/12/2016).

Bahkan Sultan mengetahui, ketika akan terjadinya aksi balasan di sebuah sekolah di Jalan Jenderal Sudirman, pada Rabu (14/12/2016) lalu.
"Kemarin juga ada kejadian. Orang [pelajar] Muhi pada lihat temannya dari utara sekolah itu mencoba mencegat, sampai ada tembakan ke atas. Saya tahu wong saya di Bethesda, karena anak saya mondok," ujarnya.

Ditanya perihal seringkali polisi terkendala perundangan peradilan anak, Sultan meminta kepolisian harus punya cara lain untuk menindaktegas. Apalagi aksi kekerasan itu seringkali sudah direncanakan. Mereka melakukannya tidak spontan dan sudah punya itikad melakukan kekerasan yang melanggar hukum. "Ah enggak [terkendala UU Peradilan], saya nggak mau, cari cara, cari cara, jangan hanya sekedar dilihat dari faktor itu [terkendala hukum]. Ini sudah pidana, sudah direncanakan," kata dia.Peran Orangtua

Sultan berharap para orangtua serius membina dan mengawasi anaknya. Serta menyadari besarnya tantangan di luar rumah. Karena pergaulan di luar rumah tidak mudah lagi seperti zaman dahulu. Banyaknya tantangan itu, jika orangtua lepas kontrol, maka kasus seperti saat ini, kekerasan menimbulkan korban jiwa bisa terjadi.

Sultan tidak bisa menilai, keluarga para pelajar pelaku kekerasan termasuk gagal mendidik anak. Alasannya butuh parameter lebih detail terkait hal itu. Namun ia menegaskan, adanya perbedaan signifikan antara pergaulan pelajar saat ini dengan 10 tahun atau 15 tahun silam. Jika kasus ini dibiarkan dapat meningkatkan kasus kenakalan remaja. Oangtua harus bisa mengontrol pergerakan anaknya.

"Itu susah ya [parameternya] saya nggak ngerti itu keluarganya siapa, gagal atau tidak. Tapi itu tantangan orangtua yang punya putra bergaul di luar rumah, itu yang saya anggap tidak seperti 10 atau 15 tahun lalu. Sangat berbahaya kalau orangtua tidak menggawasi, tetapi malah membebaskan anak apalagi laki-laki, ya terserah kamu lakukan, [lalu] didiamkan saja," urai Sultan.

Penegak hukum tidak memungkinkan melakukan penindakan tegas terhadap orangtua bagi anaknya melanggar. Seharusnya tidak ada lagi orangtua berargumen sibuk kerja. Sebelum kemajuan teknologi, Sultan masih mentoleransi jika orangtua sulit memantau anak. Selain karena belum ada ponsel dan alat komunikasi hanya ada satu telepon rumah. Tetapi, perkembangan teknologi saat ini tak bisa jadi alasan orangtua tidak melakukan pengawasan atau sekedar berkomunikasi dengan anaknya. Sebagian besar orangtua telah memberikan alat komunikasi berupa ponsel kepada anaknya. Komunikasi dengan anak minimal bisa dilakukan sekedar menanyakan kabar.

"Tidak ada alasan orangtua itu tidak mengerti perilaku anak. Wong sudah ada kemudahan teknologi kok. Kecuali orangtua memang masa bodoh dengan anaknya masalah lain itu, tetapi apa iya orangtua begitu. Komunikasi sama anak itu penting. Biarpun sekedar nak, gimana nak pelajaran sekolah?, kwe sehat?, to minimal tanya seperti itu," ucap Sultan.

Apalagi guru hanya bisa mengawasi saat jam pelajaran melalui proses pembelajaran. Sehingga pendidikan rumah tangga menjadi sangat penting, terutama untuk mengendalikan anak agar bertindak positif di dalam dan di luar rumah. Anak sebaiknya diajari bertanggungjawab kepada orangtua dan dirinya sendiri pada waktu bergaul di luar rumah.