INFRASTRUKTUR BANTUL : Kolam Renang Mangkrak Gara-gara Tak Ada Akses Masuk

Kondisi kolam renang yang mangkrak dan berganti menjadi kolam lele. (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
19 Desember 2016 13:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Infrastruktur Bantul yang mangkrak akan diperhatikan

Harianjogja.com, BANTUL -- Sempat diwarnai aksi saling tuding antara dua instansi teknis terkait kewenangan pengelolaan aset pariwisata berupa wahana kolam renang yang berada di lahan Relokasi Baru Pantai Parangtritis, tepatnya di RT 03 Dusun Mancingan, Desa Parangtritis, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul akhirnya buka suara. Melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Pemkab Bantul berjanji akan menyerahkan pengelolaan aset seluas lebih dari 2.000 meter persegi kepada pihak Pemerintah Desa (Pemdes).

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/11/27/infrastruktur-bantul-baru-berdiri-2014-begini-kondisi-kolam-renang-di-mancingan-772230">INFRASTRUKTUR BANTUL : Baru Berdiri 2014, Begini Kondisi Kolam Renang di Mancingan)

Ditanya mengenai lahan tersebut, Sekda Bantul Riyantono  hanya menjawab singkat. Menurut dia, persoalan mangkraknya wahana kolam renang itu disebabkan minimnya sarana dan prasarana pendukung. Salah satunya adalah akses masuk. Ia mengaku persoalan terbesar tak bisa dioperasikannya wahana itu adalah lantaran tak adanya akses jalan masuk yang langsung menuju lokasi wahana tersebut.

Meski begitu, ia memberikan apresiasi kepada warga sekitar yang berinisiatif memanfaatkan aset mangkrak itu dengan budidaya ikan lele. Menurutnya, hal itu adalah bukti bahwa warga sebenarnya cukup antusias terhadap aset pariwisata tersebut.

“Tapi sayangnya, beberapa piranti teknis di sana hilang. Ini coba akan kita evaluasi dulu,” kata Toni, Minggu (18/12/2016)

Terkait hal itu, salah satu warga RT 03 Dusun Mancingan Tri Widodo kecewa dengan lambannya reaksi pemerintah. Pasalnya, sejak dibangun pertama kali pada 2014 lalu, wahana itu sama sekali belum dioperasikan.

Selain itu, ia pun berharap kepada pemerintah agar segera merealisasikan penataan kawasan relokasi Parangtritis tersebut. Salah satunya adalah dengan memindahkan akses masuk ke kawasan relokasi dari sisi selatan ke sisi utara yang jaraknya tak jauh dari kolam renang. Dengan begitu, jika kelak warga akan menghidupkan kembali wahana itu, tingkat kunjungan bisa meningkat. "Karena selama ini, persoalan pengembangan wisata wahana kolam ini terkendala dengan sepinya pengunjung," katanya.

Terpisah, Kepala Desa Parangtritis Topo mengaku belum menerima informasi apapun terkait penyerahterimaan aset pariwisata itu. Menurutnya, dengan diserahkannya aset itu kepada desa, pihaknya bisa lebih leluasa dalam mengelola wahana kolam renang yang diperuntukkan bagi anak-anak itu. “Kalau selama ini, kami tak berani menyentuhnya sedikit pun. Daripada nanti malah bermasalah. Wong masalahnya, kami juga belum terima surat serah terimanya,” ungkap Topo.