EKONOMI KREATIF : Burlap Klasik Curi Perhatian Bisnis Ekspor

Kerajinan burlap yang dihasilkan Dini Prima Yuniarsih, 26, warga Gendeng Gondokusuman, Jogja (Mayang BNova Lestari/JIBI - Harian Jogja)
24 April 2017 10:22 WIB Jogja Share :

Ekonomi kreatif dikembangkan warga Gendeng

Harianjogja.com, JOGJA -- Dini Prima Yuniarsih, 26, warga Gendeng Gondokusuman memutuskan untuk resign dari tempat bekerja di pertengahan tahun 2014 lalu untuk fokus menjalani kehamilan putra pertamanya. Kepadatan aktivitas bekerja setiap hari di tempat kerjanya yang lalu membuat ia merasa kehilangan kebiasaannya untuk aktif bergerak melakukan suatu hal.

Awalnya, Prima, sapaan akrabnya enjoy saja dalam menjalani program hamil anak pertamanya tersebut. Namun lama kelamaan ia merasa jenuh karena tidak ada kesibukan selama ia mengandung. Saat itulah muncul keinginan dalam diri Prima untuk memulai rencana membuka usaha di rumah sendiri. Awalnya,  Prima tak memiliki kemampuan khusus yang dapat dijadikan modal utamanya memulai usaha. Namun, kesempatan terbuka lebar melalui mertuanya yang pandai menjahit. Mulailah sediit demi sedikit Prima mencoba untuk belajar menjahit. Tak sampai satu minggu kemampuan Prima dalam menjahit dapat terlihat sangat baik. Semangatnya yang tinggi untuk terus belajar menjadikan Prima memiliki gambaran konsep usaha yang semakin jelas dalam benaknya.

Dengan kemampuan menjahit otodidaknya, Prima berhasil memproduksi sejumlah totebag sederhana yang unik dengan desain printing hasil kreatifitasnya sendiri. Prima menggunakan media sosial (instagram) sebagai media utamanya mempromosikan sejumlah totebag yang rupanya direspon positif oleh masyarakat terutama kalangan muda.

Prima mengatakan awalnya ia hanya fokus membuat desain totebag saja. Suatu hari di November 2016 lalu ia diminta salah seorang temannya untuk membuatkan souvenir pernikahan dari jenis bahan tertentu. Demi membuka pasar yang lebih luas lagi, Prima akhirnya menyanggupi membuat souvenir berupa pouch yang terbuat dari bahan burlap (sejenis kain karung goni namun halus). Saat itu Prima mengaku sedikit kewalahan untuk mendapatkan bahan yang sesuai permintaan dan berkualitas tinggi. Setelah mencari ke sejumlah tempat akhirnya ia menemukan orang yang menjual burlap yang berlapis lilin, sehingga fisiknya lebih halus dibandingkan kain karung goni.

“Dari situ konsumen saya sangat puas dengan hasil kerja saya membuat pesanan souvenir. Kemudia menjadi titik awal saya membuka peluang berbisnis souvenir hingga sekarang,” kata Dini saat dijumpai di rumah Ave bag, Kamis (20/4/2017) lalu.

Pesanan demi pesanan terus berdatangan. Prima pun berusaha agar burlapna dapat terus berkembang mengikuti pasar yang lkini dilihatnya lebih menyukai hal yang simple namun elegan. Beberapa ornamen dan aplikasi ditambahkan pada pouchnya diantaranya dengan menggunakan aplikasi kain katun bermotif, renda air, border, juga pita kain balloteli. Tampilan pouchnya kini kian beragam dan semakin cantik. Tak berhenti dengan hiasan maupun aplikasi pada pouchnya, Prima juga mengembangkan pouch menjadi berbagi bentuk dan ukuran. Selain itu kantong atau tas serut juga masuk dalam pilihan macam produknya.

Harga yang miring untuk pesanan souvenir menjadi salah satu hal yang dipegang Prima. Minimal order untuk souvenirnya yakni sebanyak 100 buah. Berbagai ukuran mulai panjang 14 cm lebar 12 cm, 16x12, hingga 20x12 cm disediakan Prima sebagai pilihan. Untuk ukuran yang paling banyak dipesan yakni ukuran 16 dan 18 karena dinilai cukup sebagai wadah berbagai kebutuhan, alat kecantian perempuan misalnya. Untuk harga yang ditawarkan pun beragam yakni mulai Rp3.500 hingga Rp8.500 per buah untuk pesanan banyak (souvenir order). Sementara untuk pesanan satuan, harga yang ditawarkan yakni mulai Rp25.000 hingga Rp35.000.

Saat musim event pernikahan menjadi hari-hari yang sibuk bagi Prima dan tujuh orang karyawannya. Karyawannya yang mayoritas adalah ibu rumah tangga mantan pegawai buruh pabrik setiap harinya setiap orang dapat menjahit hingga 100 buah pouch berbagai ukuran. Kejar target memang dilakukan untuk memenuhi pesanan dari konsumen yang mencapai 1.500-2.000 buah per bulannya.

Dalam lima tahun berjalan, usahanya terbilang kian mengalami kemajuan yang cukup pesat. Penjualan dengan sistem pengiriman melalui pengiriman paket memenuhi permintaan yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Sidoarjo, Wonosobo, hingga Lampung. Tak hanya pembeli, tawaran bekerjasama dari reseller juga turut hinggap, bebrapa diantaranya yakni Bali, Semarang, juga Surabaya.

Sematkan Nilai Seni Tanah Air dalam Produk

Dalam melakukan bisnin tas, Prima mengaku haus memahami keinginan pasar. Hal itulah yang membuatnya terus melakukan inovasi-inovasi agar tak membosankan di mata pelanggannya. Awalnya ia ingin berinovasi melakukan kreasi di sisi warna burlap yang berwarna dasar coklat muda. Namun, berdasarkan hasil percobaan bahwa pewarna buatan tak pernah pas melekat di tekstur burlap dimana hasilnya warna selalu luntur alias tak tahan lama.

Akhirnya, ide untuk mewarnai burlap ia urungkan dan tetap bertahan pada konsep warna alam yang elegan. Sebagai gantinya ia berencana untuk menonjolkan sisi etnik menjadi sasaranya di waktu dekat. Memadukan pouch burlap dengan aplikasi berbahan batik perca menurutnya lebih baik. Selain dapat memanfaatkan sisa-sisa potongan kain, ia juga dapat menambah rasa seni dalam produknya tersebut.

Ave bag yang tergabung dalam Aliansi Perdagangan dan Industri Kreatif Indonesia (APIKI) tersebut beberapa waktu yang lalu mendapat kesempatan untuk menjual produknya ke luar negeri melalui sejumlah tahapan. Ide kreatifnya menggabungkan burlap dengan aplikasi kain perca batik tersebut direspon sejumlah pihak dan diajukan untuk mengikuti kurasi produk ekspor. Salah satu motif batik khas Jogja yakni batik Parang dinilai pantas untuk menjadi produk ekspor. Hanya saja Prima, sebagai owner Ave bag perlu melakukan sejumlah revisi agar produknya tersebut dapat lolos kurasi dan menjadi produk layak ekspor.

“Banyak yang masih perlu diperbaiki, salah satunya kualitas dan inovasi ke depannya,” kata Prima.