KISAH INSPIRATIF : Cerita Santri Ponpes Al-Qodir Nyantri di Acara Kaum Muda Katolik se-Asia

Pastor Paroki Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Babadan dan Gereja Wilayah Santo Fransiskus Xaverius Cangkringan Robertus TriWidodo Pr (kiri) menyerahkan kenang-kenangan sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada pengasuh Pondok Pesantren Al Qodir Cangkringan KH Masrur Ahmad (kanan) di depan Salib Asian Youth Day (AYD), Minggu (23/4/2017) sore. (Bernadheta Dian Saraswati - JIBIHarian Jogja)
01 Mei 2017 04:22 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Kisah inspiratif mengenai toleransi umat beragama

Harianjogja.com, SLEMAN -- Gaung dari even besar Asian Youth Day (AYD) tidak hanya dirasakan Orang Muda Katolik (OMK) di Asia. Penganut kepercayaan lain pun juga tak ingin melewatkan memontum ini untuk ikut larut merayakannya.

Awan gelap menyelimuti kawasan Cangkringan, Minggu (23/4/2017) sore. Hujan angin disertai kilat yang mengukir di langit terus terjadi lepas pukul 15.00 WIB. Suaranya menggelegar. Di tengah suasana yang mencengangkan itu, rombongan mobil berarak melalui Jalan Cangkringan dengan diikuti puluhan motor. Rombongan yang berangkat dari Gereja Wilayah Santo Fransiskus Xaverius Cangkringan itu menembus lebatnya hujan dengan penuh keberanian.

Setelah menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 6 km, rombongan sampai di sebuah bangunan besar empat lantai yang didominasi warna hijau. Bangunan itu adalah Pondok Pesantren Al Qodir yang terletak di Dusun Tanjung, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Satu per satu anak muda pun turun dan membentuk barisan. Tak lama kemudian, sebuah salib dengan bergantung ukiran Tuhan Yesus dari bambu keluar dari salah satu mobil dan menembus barisan itu. Pembawa Salib pun berjalan dengan diikuti puluhan anak muda yang turut dibelakangnya.

Sesampainya di lantai 3, sejumlah santri berbalut almamater hijau, sudah menyambut hangat dengan sapaan dan jabatangan. Mereka mempersilakan duduk dan kemudian ikut berbaur dan berdinamika bersama di aula terbuka itu.

Setelah seharian melalui perjalanan panjang dari Kali Gendol, sore harinya salib itu akhirnya ditahtakan di hadapan para santri dengan diapit bendera Indonesia dan negara Vatican sebagai pusat Agama Katolik dunia. Di belakangnya ada panji-panji berwarna kuning, sebelah kiri milik Keuskupan Agung Semarang dan sebelahnya lagi adalah panji Vatican. Salib ditahtakan berdampingan dengan layar proyektor yang bertuliskan Orang Muda Katolik (OMK) Nyantri di Al Qodir.

Menjelaskan lebih lanjut makna dari tema itu, Lurah Ponpes Al-Qodir Idin mengatakan nyantri diartikan sebagai belajar. Bukan berarti belajar ibadahnya orang Islam atau sebaliknya tetapi belajar bagaimana hidup di dunia dengan cara yang baik dan tidak hanya belajar untuk bisa masuk surga.

Dari belajar, katanya, akan terlihat efeknya dalam kehidupan dan perbuatan. “Bukan ingin menang atau paling bagus sendiri. Jangan sampai terjadi seperti sekarang yaitu masalah kerukunan [antarumat beragama],” tuturnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Qodir KH Masrur Ahmad pun menegaskan Islam sangat menerima umat Nonmuslim datang ke pondok pesantren, untuk sekadar berkunjung maupun sharing.

Ia sendiri memaknai kata kafir sebagai seseorang yang tidak bertuhan.

“Tugas kita sebagai orang yang bertuhan adalah berbuat baik. Semoga hubungan baik kita ini [antara umat Katolik dan Islam] bisa terjaga dan jadi contoh,” tutur kyai nyentrik berambut gondrong ini.

Mendengar adanya even AYD, warga Al Qodir merasa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memandang Salib AYD yang terus dikirab dari satu tempat ke tempat lain itu. Maka atas permintaan KH Masrur sendiri untuk mengantarkan Salib AYD mampir ke pondok pesantren miliknya, pihak gereja pun mengiyakan.

Sesuai namanya, Asian Youth Day (AYD) diperingati oleh seluruh kaum muda Katolik se-Asia. Karena berangkat dari Katolik, untuk menandai rangkaian acara itu dikirablah Salib Yesus Kristus berkeliling ke tujuh negara tuan rumah AYD. Pertama kali diawali dari Thailand, India, Taiwan, Hongkong, Filipina, Korea Selatan, dan terakhir Indonesia.

Di Indonesia, Jogja akan menjadi tuan rumah puncak perayaan AYD dan akan dilangsungkan di Jogja Expo Center pada 30 Juli-6 Agustus 2017. Diperkirakan, sebanyak 2.000 kaum muda se-Asia akan berkumpul dan menjalani live in bersama umat di Keuskupan Agung Semarang, termasuk Jogja.

Pastor Robertus Tri Widodo Pr selaku Pastor Paroki Gereja Katolik Babadan dan Cangkringan mengatakan, salib ini sudah berkeliling di tujuh negara sejak 1999. Sudah jutaan mata memandang salib ini, ribuan tangan menjamahnya, dan ratusan Uskup dan para pastor sudah berdoa di hadapannya.

“Bapa Suci Fransiskus (pimpinan umat Katolik se-Dunia) juga sudah berdoa di hadapannya, sehingga sungguh, salib ini luar biasa,” katanya.

Salib itu tampak sederhana karena hanya terbuat dari bambu asal Filipina. Bambu dipilih karena memiliki banyak manfaat untuk kehidupan manusia. Begitu juga dengan Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib dan bangkit  membawa keselamatan manusia.

Harapannya, kata Pastor Tri Widodo, kaum muda semakin menyadari panggilan sucinya menjadi generasi penerus gereja dan mewartakan Kristus yang bangkit sehingga banyak orang terselamatkan.