WISATA BANTUL : Belajar Sejarah dan Pengolahan Cokelat di Monggo Chocolate Store and Museum

01 Mei 2017 13:19 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Monggo Chocolate Store and Museum dibangun untuk mengedukasi masyarakat tentang tanaman cokelat

 
Harianjogja.com, BANTUL- Cokelat yang kaya manfaat mudah kita temukan di mana saja. Mulai dari toko kelontong hingga etalase cafe premium yang terdapat di pusat-pusat perbelanjaan. Namun di Bantul, kita dapat menemukan cokelat di museum.

Warna-warna cerah puluhan gambar dan poster tentang cokelat yang dipajang berjejer di dinding langsung terlihat saat memasuki bangunan utama Chocholate Manggo Museum and Store.

Kisah-kisah tentang coklat dilukiskan langsung di dinding museum. Mulai dari zaman Suku Olmec pada 1900-300 sebelum Masehi, Suku Maya, Suku Aztec, hingga cokelat dibawa ke Benua Eropa.

Di sudut lain, terdapat tiruan pohon kakao dengan buah ranum yang bergelantungan di dahan. Di bawahnya, tiga karung goni berisi biji kakao kering berwarna cokelat tua. Sedangkan di sampingnya tampak mesin pengolah cokelat ditempatkan di ruangan berkaca. Semua peraga dan peralatan pengolahan cokelat tersebut digunakan untuk menjelaskan proses pembuatan cokelat dari awal hingga siap dipasarkan.

Museum ini didirikan Thierry Detournay, warga negara Belgia. Thierry juga dikenal sebagai pendiri Cokelat Monggo, yang rumah produksinya berada di Kotagede, Yogyakarta. Tak heran, jika di salah satu sudut museum terpampang komik sejarah berdirinya Cokelat Monggo dari masa ke masa.

Project Development Newstore, Gunawan mengatakan museum ini dibangun untuk mengedukasi masyarakat tentang tanaman cokelat. Sebab, Indonesia merupakan penghasil kokoa terbesar ketiga di dunia tetapi konsumsi cokelat masih rendah, hanya sebesar 300 gram/kapita. "Banyak orang beranggapan coklat itu bikin gendut, tidak sehat. Padahal tidak," kata dia.

Maka di museum ini, selain dijelaskan tentang sejarah dan proses pengolahan coklat, pengunjung juga dapat membuat cokelat sendiri melalui kegiatan "Chocholate Experiene".

Menurut Gunawan, dengan mengerti cara pembuatan coklat maka pengunjung juga akan belajar komposisi cokelat. Dengan begitu pengunjung mengerti manfaat cokelat yang bermanfaat bagi kesehatan.

Museum ini baru dibuka pada Januari 2017. Meski baru empat bulan, menurut Gunawan pengunjung sudah banyak berdatangan. Hingga bulan ini, tercatat sekitar 2000 pengunjung yang berkunjung. Pengunjung rata-rata berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan rombongan keluarga. "Hingga bulan ini tarif masuk pengunjung masih Rp10.000 saja," ucap dia.

Ke depan, museum akan dikembangkan menjadi pabrik mini pembuatan cokelat. Sehingga pengunjung dapat melakukan mini trip cokelat. "Kami ingin setelah mengunjungi museum ini masyarakat tau bahwa cokelat itu juga bermanfaat," pungkasnya.