Diarahkan Lewat Jalur Alternatif, Wisatawan ke Parangtritis Ditarik Pungli

Antrean kendaraan di pintu loket TPR Pantai Parangtritis, Sabtu (31/12/2016) malam. (Arief JUnianto/JIBI - Harian Jogja)
02 Mei 2017 12:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Pengaturan satu arah yang sejatinya untuk mempermudah akses keluar-masuk kendaraan justru memicu terjadinya pungutan liar

Harianjogja.com, BANTUL--Tak hanya kemacetan, gelaran http://m.harianjogja.com/?p=813913">Jogja International Air Show (JIAS) 2017, Minggu (30/4/2017) lalu juga memicu munculnya pungutan liar. Pengaturan satu arah yang sejatinya untuk mempermudah akses keluar-masuk kendaraan justru memicu terjadinya pungutan tersebut.

Dari pantauan Harianjogja.com, sejumlah pemuda dari dusun sekitar, justru memanfaatkan momentum kemacetan ini untuk meraup rupiah. Pengendara sepeda motor yang hendak melaju menuju Jalan Pantai Depok, mereka arahkan untuk melintasi jalan pintas, tepatnya di Dusun Kretek, Desa Parangtritis.

“Katanya sih, memang biar lebih cepat,” kata Dicky, salah satu pengendara sepeda motor asal Sleman yang memang sengaja datang ke Pantai Depok untuk melihat langsung atraksi JIAS 2017 tersebut, Senin (1/5/2017).

Melihat kondisi lalu lintas yang padat, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Sleman itu pun tak punya pilihan selain mengikuti arahan dari sejumlah pemuda tersebut. Sayangnya, saat berada di tengah perkampungan, Suwito justru harus membayar ‘upeti’ sebesar Rp2.000 kepada warga.

“Semua pengendara sepeda motor semuanya ditarik. Tidak hanya saya. Ya bagaimana lagi, sudah terlanjur di tengah perkampungan. Saat saya tanya, katanya untuk kas pemuda,” kisah Dicky.

Bahkan, tambah Dicky, saat ada pengendara sepeda motor lainnya menanyakan perihal pungutan itu, pihak pemuda dusun justru menjawab dengan ketus. Terkait pungutan itu, mereka mengaku telah mendapatkan izin dari pihak Kepala Desa Parangtritis.

Sayang, saat Lurah Parangtritis Topo dikonfirmasi wartawan, Senin (1/5/2017) justru menampiknya. Ia mengaku tak tahu menahu terkait pungutan itu. “Ora ngerti tenan [Sungguh tidak tahu],” ucapnya.

Itulah sebabnya Topo berjanji bakal melakukan langkah antisipasi. Caranya dengan meminta dukuh setempat memberikan sosialisasi kepada warganya menjelang even serupa tahun depan. “Beberapa tahun lalu juga pernah ada. Sekarang kok muncul lagi,” keluhnya.

Topo menilai JIAS 2017 merupakan berkah sebagian warga Parangtritis. Tak sedikit warga yang memanfaatkan event tahunan ini untuk meraih keuntungan. Selain berjualan, tidak sedikit yang membuat area parkir dadakan. Meski tarifnya pun terbilang cukup besar, yakni Rp5.000 untuk sepeda motor. “Tapi kan nggak tiap hari,” kilahnya.