KELULUSAN SMA SMK : Anak Juru Parkir Ini Meraih Nilai Tertinggi UN SMK di DIY

(kiri ke kanan) Dua siswa SMK N 1 Pengasih, Vanny Anjarsari dan Wulan Damayanti, masing-masing peraih peringkat pertama dan kedua, nilai tertinggi hasil UN jenjang SMK se-DIY, ditemui pada Selasa (2/5/2017). (Uli Febriarni/JIBI - Harian Jogja)
03 Mei 2017 04:20 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Dua orang siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Pengasih (SMK N 1 Pengasih) meraih nilai tertinggi pertama dan kedua, hasil Ujian Nasional (UN) 2017 jenjang Sekolah Menengah Atas/Kejuruan se-Daerah Istimewa Yogyakarta

 
Harianjogja.com, KULONPROGO- Dua orang siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Pengasih (SMK N 1 Pengasih) meraih nilai tertinggi pertama dan kedua, hasil Ujian Nasional (UN) 2017 jenjang Sekolah Menengah Atas/Kejuruan se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mereka berdua berasal dari keluarga yang tergolong bersahaja. Bagaimana cara mereka belajar, hingga meraih prestasi tersebut?

Ketika ditemui di ruang tamu Kepala Sekolah, Vanny Anjar Sari tak henti-hentinya menunjukkan raut sumringah dan sesekali menutup setengah wajahnya. Lesung pipinya terlihat semakin jelas, ketika ia hanya bisa tersenyum lebar saat ditanya mengenai prestasi menjadi jawara dalam UN 2017 jenjang SMK se-DIY.

Perempuan yang sehari-harinya tinggal di Dusun Beji, Kelurahan Wates itu juga tak muluk-muluk saat ditanya resep belajar mempersiapkan diri menghadapi UN yang digelar pada 3-6 April 2017 lalu.

Tidak mengikuti les tambahan di luar sekolah, ia mampu meraih total nilai 373,8 dengan rincian 98 untuk Bahasa Indonesia, 86 untuk Bahasa Inggris, nilai Matematika 97,5 dan Akuntansi sebesar 92.

"Belajarnya hanya kalau mood, kalau tidak mood ya tidak belajar. Soalnya kalau sedang tidak mood, nanti tidak ada materi yang masuk, kalau sedang mood, belajarnya bisa sampai lama," tutur siswa XII Akuntansi 1 ini, Selasa (2/5/2017).

Putri dari Poniman yang merupakan jukir di RSUD Wates ini menjelaskan, ia belajar sedikit-sedikit namun dengan intensitas sering. Hal itu menurutnya membantu diirnya memahami dan menyerap materi dengan lebih mudah.

Malam hari, ia mengaku tak pernah belajar, dan jarang belajar kelompok bersama teman-temannya, kecuali pada pagi hari sebelum UN dimulai.

"Saya juga mengerjakan soal yang mudah dan menarik terlebih dahulu," ungkap gadis yang lahir dari rahim seorang Sademi, pada 10 Oktober 1998 ini.

Bercita-cita sebagai pegawai Bea dan Cukai, Vanny berencana melanjutkan ke pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) atau Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Sementara itu, Wulan Damayanti yang merupakan peraih juara tertinggi kedua hasil UN se-DIY meraih total rata-rata nilai Bahasa Indonesia 92, Bahasa Inggris 92, Matematika 95, dan Akuntansi meraih 93,2, dengan total rata-rata nilai 372,2.

Gadis yang optimistis akan diterima di STAN atau UNY ini juga nyaris sama seperti Vanny. Ia memilih belajar ketika dalam kondisi mood, karena dirinya khawatir kelelahan bila belajar tidak dalam keadaan mood.

"Kalau materi yang sudah paham, diulangi di rumah sedikit saja. Fokus mempelajari materi yang masih sukar dipahami," ungkap putri dari seorang petani bernama Suryadi dan Agustus Maryati.

Anak tunggal di rumah yang sehari-hari tinggal di Dusun Kragon I, Desa Palihan ini menyatakan, dukungan orang tua begitu besar kepada dirinya ketika tengah mempersiapkan diri menghadapi UN, sesekali dirinya membantu orang tua di rumah, namun sesekali dirinya mendapat dispensasi untuk belajar ketimbang melakukan aktivitas pekerjaan rumahan.