PROTES SLEMAN : Warga Tanjungtirto Resah, Ngopen Dikaveling

Lokasi Sultan Grond yang dikaveling dan diprotes warga Dusun Tanjungtirto, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Selasa (9/5/2017). (JIBI/Harian Jogja - Galih Eko Kurniawan)
09 Mei 2017 08:33 WIB I Ketut Sawitra Mustika Sleman Share :

Sultan Grond itu berada di kawasan pohon beringin Tanjungtirto

Harianjogja.com, SLEMAN—Puluhan warga Dusun Tanjungtirto, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Sleman mendatangi Kantor Desa Kalitirto, Senin (8/5/2017). Massa menuntut agar perangkat desa tidak bersekongkol dengan orang yang hendak mengaveling dan menjual Sultan Grond di dusun mereka.

“Intinya ingin desa mengembalikan tanah Kraton [Jogja] sebagai bentuk abdi terhadap kraton dan untuk tidak ikut serta memperjualbelikan tanah kraton. Dicurigai ada perangkat desa yang membidangi jual beli ini. Ini sudah di luar batas,” kata salah satu warga, Kuncoro, Senin.

Sultan Grond itu berada di kawasan pohon beringin Tanjungtirto, berada di sisi timur. Warga biasa menyebutnya Ngopen. Puluhan tahun lalu, Ngopen sekadar lahan kosong setelah tidak lagi digunakan untuk aktivitas pabrik tembakau. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, lokasi itu sering digunakan untuk pasar malam keliling dan lokasi berjualan sejumlah warga dengan bangunan nonpermanen.

Namun, sebulan terakhir, terlihat ada aktivitas pembangunan permanen, di sebelah utara warung soto. Setelah ada protes warga, dua pekan terakhir tidak ada lagi aktivitas pembangunan bangunan itu. Kuncoro menyebut ada yang mengaku sebagai ahli waris Sri Sultan HB VII yang mengaveling tanah itu dan menulis diperjualbelikan.

Kepala Desa Kalitirto, Suparwoto, mengaku sempat ditawari bagian tanah di Ngopen namun menolaknya. Menurut dia, beberapa tanah sudah tersertifikat atas nama Kraton Jogja, bukan Sri Sultan HB X ataupun Sri Sultan HB VII.

Ditengah proses audiensi berlangsung, seorang perwakilan dari ahli waris Sri Sultan HB VII, yakni Eko Jatmiko, datang dan memberi penjelasan kepada warga. Eko mengenalkan diri sebagai utusan langsung RM Triyanto yang merupakan ahli waris Sri Sultan HB VII.

Eko mengatakan perangkat desa tidak ada yang terlibat satu pun dalam kasus yang terjadi di Ngopen. “Yang terjadi di lapangan murni adalah tanggung jawab saya. Bersalah karena tidak menyosialisasikan hal ini kepada warga secara penuh. Kalau tahu ada warga yang keberatan dan menolak tanah ini dikaveling, pengavelingan tidak akan dilanjutkan,” katanya.