Pameran Museum 2017 Manfaatkan Kecanggihan "Virtual Reality"

Pengunjung Museum Gunung Merapi (MGM) mendengar penjelasan pemandu wisata di sekitar diorama Gunung Merapi, Kamis (26/11/2015). (JIBI/Harian Jogja - Bernadheta Dian Saraswati)
14 Mei 2017 05:21 WIB Sekar Langit Nariswari Sleman Share :

Pameran Museum 2017 menawarkan konsep edutainment berbasis kecanggihan teknologi

 
Harianjogja.com, SLEMAN-Pameran Museum 2017 menawarkan konsep edutainment berbasis kecanggihan teknologi. Salah satunya berupa pengalaman bagi pengunjung datang ke Museum Pleret lewat Virtual Reality (VR).

Acara ini akan diselenggarakan di Jogja City Mall mulai tanggal 17 hingga 21 Mei mendatang. Acara bertajuk Museum Jogja Istimewa Untuk Indonesia ini juga akan dilengkapi dengan berbagai kegiatan antara lain dialog museum, tour de musum dan masih banyak lagi.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono menyebutkan akan ada 52 museum dari seluruh Indonesia yang akan ikut serta dan membuka stannya. Lokasi pelaksanaan juga dipilih yang dekat dengan masyarakat modern yang dekat dengan budaya konsumerisme tinggi.

“Museum bukan hanya goes to school atau campus, agar masyarakat di sela konsumerisme tinggi itu juga memiliki ketahanan budaya,” terangnya kepada wartawan, pada Rabu (10/5/2017).

Format yang ditampilkan memang nyaris serupa dengan gelaran tahun sebelumnya, namun tahun ini akan mengedepankan pemanfaatan IT untuk daya tarik museum. Hal ini sebagai upaya menjadikan museum sebagai atraksi yang tidak hanya mendidik namun juga menarik agar tidak kehilangan peminatnya.

Budi Husada, Kepala Seksi Promosi dan Inovasi Dinas Kebudayaan DIY mengatakan jika penggunaan teknologi yakni dengan adanya program tour de museum lewat kacamata VR ke Museum Pleret. “Masih dalam tahap uji coba maka baru kita sediakan 1 untuk dicoba pengunjung,” terangnya ditemui di lokasi yang sama.

Ia menguraikan jika tidak ada durasi khusus dalam penggunaan VR itu karena pengalamannya akan nyaris serupa dengan mengunjungi sendiri. Maksudnya, pengunjung lah yang menentukan durasi dan akhir perjalanannya.

Ia mengakui jika penggunaan VR ini menuntut biaya dan persiapan ekstra dibandingkan biasanya. Namun, harapannya ini bisa menggelitik masyarakat untuk melihat dan kemudian berkunjung langsung ke museum yang terletak di Bantul ini.

Museum Pleret dipilih dengan pertimbangan kemudahan izin, dari segi dokumentasi dan penggunaan objeknya untuk VR, karena merupakan milik pemerintah.

Selain itu, pemanfaatan teknolohi akan ditunjukkan saat menampilkan koleksi Museum Pleret yakni Keris Sapu Inten yang ditemukan dalam eskavasi tahun 2010 silam. Budi menjelaskan jika keris tersebut dalam kondisi korosi parah sehingga akan direkonstruksi dalam bentuk digital berupa hologram 3D.

Konstruksi digital inilah yang akan menjadi sarana masyarakat mengetahui bentuk detail dari peninggalan yang diperkirakan dari masa Sultan Agung Amangkurat itu.

Penyelanggara juga menyediakan 4 bus bagi pengunjung pameran untuk diantarkan ke Museum Sonobudoyo, Kepresidenan, dan Benteng Vrederburg. Selain itu, adapula talkshow, lomba dongeng, selfie, dan campursari bertemakan museum.