Antisipasi Virus Ransomware, RSUD Wates Layani Warga secara Manual

Anggota Komisi C DPRD Gunungkidul Anton Supriyadi saat melihat bangunan baru gedung IGD milik RSUD Wonosari, Sabtu (31/12/2016). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
15 Mei 2017 15:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Pemkab Kulonprogo mewaspadai virus ransomware yang telah menyerang berbagai negara di dunia

Harianjogja.com, KULONPROGO-Pemkab Kulonprogo mewaspadai http://m.harianjogja.com/?p=816686">virus ransomware yang telah menyerang berbagai negara di dunia. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diminta melakukan http://m.harianjogja.com/?p=733479">back up data sebagai langkah antisipasi.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kabupaten Kulonprogo, Agus Santosa mengatakan, koordinasi terkait peningkatan sistem pengamanan data telah dilakukan sejak Minggu (14/5/2017) malam.

Informasinya kemudian langsung disebar kepada para pimpinan OPD. "Kami meminta semua OPD segera melakukan back up data dengan cara mencabut dulu koneksi internetnya," ujar Agus, Senin (15/5/2017).

Agus memaparkan, banyak layanan terkait data dan informasi yang membutuhkan dukungan internet. Sejauh ini, dia mengaku belum mendapatkan laporan maupun keluhan apapun mengenai indikasi serangan virus ransomware. Meski begitu, dia menegaskan langkah sederhana berupa back up data tidak boleh diabaikan sebagai antisipasi dini.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates, Lies Indriyati menyatakan telah melakukan back up data sejak Minggu malam. "Kita sudah membuat back up untuk data yang riskan dan berhubungan dengan internet," kata Lies.

RSUD Wates juga menonaktifkan semua layanan yang berhubungan dengan fasilitas internet hingga ada informasi lebih lanjut dari Dinas Kominfo Kulonprogo.

Layanan bersangkutan untuk sementara dilaksanakan secara manual. Langkah tersebut diakui mengganggu efektivitas layanan, khususnya pendaftaran pasien.

Lies menjelaskan, pendaftaran pasien yang menggunakan jaminan kesehatan sangat membutuhkan dukungan internet, misalnya saat verifikasi surat eligibilitas peserta (SEP). "Ini sementara manual dulu. Jelas mengganggu tapi harus dilakukan dari pada nanti [data] rusak semuanya," ungkap Lies.