Muhammadiyah Bakal Punya Sekolah Sungai di DIY

Seniman asal Prancis, Viviane Poly (berkaus putih) menempelkan karya poster dalam acara ruwatan Kali Code bertajuk "Reresik Kali Nandur Paseduluran" atau "Membersihkan Sungai Menanam Persaudaraan" di Kali Code, DI Yogyakarta, Rabu (30/03 - 2016). Acara yang diikuti berbagai kumunitas dan warga dan mahasiswa pendatang yang tinggal di Yogyakarta itu berupaya untuk menyerukan kelestarian sumber daya air di Yogyakarta yang semakin terkikis akibat banyaknya pembangunan yang tidak ramah lingkungan.(Desi Suryanto
17 Mei 2017 05:22 WIB Nugroho Nurcahyo Jogja Share :

Muhammadiyah mengembangkan Sekolah Lingkungan

Harianjogja.com, JOGJA — Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah bakal meresmikan Sekolah Sungai di bantaran Kali Code, kampung Jetis Harjo, Jetis, Jogja, Kamis (18/5/2017). Peresmian akan dilakukan Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

"Sungai adalah tempat air mengalir. Dan air adalah sumber kehidupan. Program ini sejalan dengan pedoman lingkungan hidup Muhammadiyah yang memandang air sebagai hak dasar manusia yang harus dijaga dan dijamin kelestariannya,” kata Ketua Umum Pemerti Code Totok Pratopo, yang juga menjadi Ketua Panitia Pembukaan Sekolah Sungai Muhammadiyah saat berkunjung ke Griya Harian Jogja, Selasa (16/5/2017).

Sekolah sungai adalah model sekolah informal yang menekankan upaya membangun paradigma baru dalam memandang lingkungan tempat tinggal, terutama lingkungan sungai. Sekolah ini menggunakan aula masjid, balai RT RW, ruang terbuka pinggir sungai, pendapa kelurahan bahkan rumah pribadi sebagai ruang-ruang belajar.

Para pematerinya adalah para pegiat sungai dan lingkungan yang selama ini aktif menggeluti bidang pengelolaan air bersih masyarakat, pengelolaan sampah, konservasi air dan sungai, pemberdayaan masyarakat sungai, dan organisasi komunitas sungai.

Adapun untuk sekolah sungai yang didirikan Muhammadiyah ini, kata Totok, mula-mula akan menyasar peserta warga Muhammadiyah di tingkatan terbawah yakni tingkat ranting dan takmir-takmir masjid. “Ke depan bisa dilanjutkan roadshow ke sekolah formal seperti SD, SMP, SMA, bahkan ke perguruan tinggi. Kami sudah memiliki silabus, modelnya pembelajaran ruang dan luar ruang,” kata Totok.

Anggota Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY Harris Syarif Usman menambahkan, ke depan dimungkinkan silabus pendidikan tentang sungai ini akan disinergikan dengan pendidikan formal Muhammadiyah. “Bisa dalam bentuk muatan lokal untuk sekolah-sekolah dan perguruan tinggi [Muhammadiyah],” ujar Ketua Asosiasi Sungai Jogja itu.

Menurutnya, usaha melestarikan sungai menghadapi tantangan semakin berat, terutama di kawasan perkotaan dengan kian bertambahnya populasi penduduk. Padahal pelestarian sungai tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah semata. Warga yang tinggal di sekitar sungai, baik itu hulu hingga hilir, mesti tersadarkan untuk ikut melestarikan.

Sekolah sungai Muhammadiyah bukan sekolah sungai pertama didirikan. Pada pengujung 2015, di Kali Code juga didirikan Sekolah Sungai yang digagas digagas dan dikelola oleh Komunitas Sungai Code-Boyong.