FKWA Menyoroti Pencemaran Sungai Winongo

Kegiatan Sarasehan Menemukenali Pencemaran Limbah Winongo di Glondong, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul pada Sabtu (20/5/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI - Harian Jogja)
22 Mei 2017 11:57 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) menyoroti air Sungai Winongo yang tercemar dengan kategori berat dinilai dari indeks biotilik.

Harianjogja.com, BANTUL--Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) menyoroti air Sungai Winongo yang tercemar dengan kategori berat dinilai dari indeks biotilik.

Kondisi kualitas sungai dengan indeks biotilik dibagi menjadi empat kategori, yaitu tidak tercemar (3,3 sampai 4,0), tercemar ringan (2,6 sampai 3,2), tercemar sedang (1,8 sampai 2,5) dan tercemar berat (1,0 sampai 1,7).

Ketua FKWA Yogyakarta, Endang Rohijani memaparkan dari hasil pengamatan FKWA, Sungai Winongo segmen Tegalrejo hingga Pakuncen menunjukkan adanya pencemaran ringan. Kesimpulan ini didapatkan dari nilai indeks biotilik sebesar 2,6.

"Hasil pengamatan biotilik di Sungai Winongo segmen Mantrijeron menunjukkan bahwa kualitas sungai dalam kondisi tercemar berat, dinilai dari indeks biotilik sebesar 1,6," ujarnya.

Pengamatan kondisi sungai ini dilakukan oleh FKWA bersama akademisi dari Teknik Geologi UGM, Teknik Sipil Atmajaya, Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga, dan Kelompok Studi Entomologi Fakultas Biologi UGM pada 30 April 2017 menemukan hasil yang tak jauh dari prediksi awal.

Hasil penelitian tersebut disampaikan dalam Sarasehan Menemukenali Pencemaran Limbah Winongo di Glondong, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul pada Sabtu (20/5/2017).

Endang menjelaskan, penilaian kualitas air sungai dengan biotilik tersebut dilakukan dengan menghitung sejumlah parameter, yaitu keragaman jenis mikroorganisme invertebrata (hewan tak bertulang belakang), keragaman jenis famili mikroorganisme invertebrata, persentase kelimpahan mikroorganisme invertebrata EPT, dan penilaian indeks biotilik.

Tak hanya itu saja, FKWA juga mengamati kondisi fisik bantaran sungai. Beberapa temuan di antaranya timbunan sampah, tebing sungai yang rawan longsor, dan buangan limbah rumah tangga yang langsung dibuang ke sungai. FKWA juga mengamati vegetasi dan kondisi mata air yang masih tersisa.

"Dari hasil pengamatan, pencemaran yang terjadi di Sungai Winongo disebabkan karena adanya pembuangan limbah tangga dan industri rumah tangga,” katanya.

Staf SatKer PSPLP DIY, Nurul Latifah Hanum mengamini banyaknya limbah rumah tangga yang mencemari Sungai Winongo. Ia mengatakan limbah-limbah domestik tersebut dipicu oleh peningkatan jumlah penduduk yang berimbas pada bertambahnya aktivitas masyarakat dan menghasilkan limbah.

Selain itu, pengolahan limbah domestik juga belum terlayani dengan baik. "Pembangunan IPAL Sewon belum melayani limbah domestik di bantaran sungai," ucapnya.

Nurul menambahkan septik-tank komunal juga masih bermasalah karena tangki rawan bocor, indikasinya setiap dua hingga tiga tahun sekali harus disedot.

Ia mendorong masyarakat untuk peduli pada permasalahan yang ada di lingkungannya dan tidak hanya menunggu tindakan dari pemerintah saja. "Masyarakat bisa membuat proposal dan disampaikan ke satker dinas terkait permasalahan pengolahan limbah ini," katanya.

Permasalahan pencemaran limbah ini, menurut Kepala Balai PSDA Dinas PUP dan ESDM DIY Bambang Sugiharto, tidak hanya terjadi di Sungai Winongo saja namun juga di Sungai Gajah Wong, Bedog, Code, Kali Kuning dan yang lainnya.

Maka Bambang menyatakan hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama baik bagi pemerintah maupun masyarakat, agar permasalahan pencemaran limbah dapat diselesaikan. "Bagaimanapun sungai adalah ruang lingkup kita," tegasnya.