Industri Jamu Gendong Didorong Menambah Jenis Produk

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga (kanan) dan Menteri Perindustrian Saleh Husin (kedua dari kanan) meminum jamu dari penjual jamu gendong dalam pencanangan Gerakan Bangga Minum Jamu di Kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Jumat (9/1/2015). Kegiatan itu untuk menyosialisasikan aksi minum jamu di kalangan di lingkungan kementerian. (JIBI/Solopos/Antara - Sigid Kurniawan)
27 Mei 2017 19:21 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Pengrajin jamu gendong didorong untuk menambah jenis produksi

Harianjogja.com, BANTUL--Posisi Indonesia yang berada di urutan kedua setelah Brazil sebagai negara dengan potensi tanaman obat terbesar, ternyata masih belum dimanfaatkan dengan baik.

Hal itu terbukti dari masih minimnya para pengusaha jamu tradisional yang secara profesional mengelola distribusi dan pemasaran produknya.

Kebanyakan dari pengusaha masih terpaku pada pemasaran lokal dan kewilayahan saja. Padahal dengan semakin didengungkannya konsep 'Kembali ke Alam', seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menggaet pasar, terutama pasar internasional.

"Salah satu contohnya ya di sini, di Sentra Jamu Gendong Dusun Kiringan," aku Eka Maya Sari SC, salah satu akademisi dari Universitas Pamulang, Tangerang Selatan di sela kegiatannya mengunjungi Sentra Jamu Gendong di Kiringan, Desa Canden, Kecamatan Jetis, Rabu (24/5/2017).

Persoalan pemasaran itu, menurutnya, tak lepas dari kesulitan para pengrajin tradisional mendapatkan izin, terutama dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Padahal, untuk komoditas jamu, izin itu mutlak diperlukan agar produk bisa didistribusikan secara luas. Meski sebenarnya, ia sendiri tak menampik sulitnya mendapatkan izin BPOM itu, terlebih bagi para pengrajin jamu tradisional yang kebanyakan berstatus Industri Rumah Tangga.

Oleh karenanya, ia bermaksud mendorong para pengrajin untuk tidak hanya terpaku pada satu jenis produk saja. Ia berharap pengrajin juga mulai memperbanyak produksi jenis lain. "Misalnya tidak hanya dalam bentuk kau segar saja, tapi juga dalam bentuk instan," tambahnya.