RAMADAN 2017 : Setiap Hari, Masjid Jogokaryan Sediakan 1.700 Takjil

Takjil di Masjid Jogokariyan Mantrijeron Kota Jogja. (Desi Suryanto/JIBI - Harian Jogja)
31 Mei 2017 20:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Warga Kampung Jogokaryan, Kelurahan Mantrijeron, Kota Jogja, saling bahu membahu membuat 1.700 porsi takjil

Harianjogja.com, JOGJA- Warga Kampung Jogokaryan, Kelurahan Mantrijeron, Kota Jogja, bahu membahu membuat 1.700 porsi takjil setiap hari selama bulan Ramadhan untuk menu buka puasa di Masjid Jogokariyan.

Suara "dokkodokodokkodok" saling bersahutan dari satu panci ke panci lainnya di salah satu gang di Kampung Jogokaryan, Minggu (28/5/2017). Tiga panci yang rata-rata bisa menampung air sebanyak 30 liter itu sedang berusaha melunakkan daging ayam ras sembari memastikan semua bumbu masuk ke setiap pori-pori daging demi terciptanya gulai ayam terbaik.

Jika dicium dari bau yang keluar, sepertinya kinerja para panci tersebut cukup berhasil. Aroma santan yang kuat bercampur dengan bau lemak ayam yang melumer membuat otak membayangkan betapa nikmatnya gulai itu jika dituangkan pada nasi hangat dengan taburan bawang goreng.

Bagi orang yang memutuskan untuk berbuka puasa di Masjid Jogokariyan rasa-rasanya tidak akan dibuat kecewa oleh performa si gulai ayam. Nevy, salah satu anggota kelompok dasawisma satu dari RW 11 Kampung Jogakaryan mengatakan, memang sengaja menyewa tukang masak agar menu buka puasa di masjid kebanggannya itu tidak buruk-buruk amat, bila perlu mendapat pujian.

Lagipula, Nevy dan kawan-kawannya yang mendapat giliran memasak lauk untuk menu buka puasa di Masjid Jogokariyan pada Minggu (28/5/2017), tidak punya kepercayaan diri untuk memasak 120 kilo daging ayam menjadi gulai ayam bagi sekitar 1700 orang.

Karena Nevy CS tidak punya kepercayaan diri dalam meramu gulai ayam, otomatis ia dan kawan-kawannya lebih fokus dalam mempersiapkan bahan-bahan yang ada dan melaksanakan titah si tukang masak, atau bahasa kerennya jadi asisten.

Bersambung halaman 2

Proses penciptaan gulai ayam bagi sekitar 1700 orang tersebut nyatanya memang tidak singkat.
Proses penciptaan gulai ayam bagi sekitar 1700 orang tersebut nyatanya memang tidak singkat. Butuh dua hari bagi Nevy cs merampungkan tugas yang diembankan ke kelompoknya. Pada hari pertama, atau Sabtu (27/5/2017), Nevy cs sibuk mengangkuti bumbu-bumbu masakan seperti cabai, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, jahe, kencur, laos, dan daun salam dari pasar Prawirotaman.

Tak lupa daging ayam dan kelapa untuk membuat santan juga diangkut dari pasar Prawirotaman. Setelah semua beres diangkut, pekerjaan selanjutnya tentu menghaluskan si bumbu-bumbu masakan, memotong ayam, dan memarut kelapa.

Semua selesai dilakukan saat matahari sudah nyenyak berada diperaduan.
Esoknya, saat subuh memanggil-manggil orang untuk bangkit dari tidur lelapnya, Nevy cs dengan bantuan juru masak bayaran mulai mengeksekusi si daging ayam. Eksekusi selesai dilakukan kira-kira pukul 14.00 WIB.

“Kami menyediakan menu gulai ikan, acar dan kerupuk untuk buka puasa nanti. Gulai ayam kami pilih karena harganya murah dan orang jarang punya pantangan makan ayam, enggak kayak sapi,” jelas Nevy.

Untuk membuat menu gulai ikan 1700 porsi, ia mengatakan biayanya kurang lebih sebanyak Rp6,5 juta. Tapi, Nevy cs tak perlu patungan banyak-banyak, karena Masjid Jogokariyan memberikan subsidi sebanyak Rp6 juta per kelompok.

Paling banter per orang hanya patungan sebanyak Rp20.000 rupiah, “Kelompok kami isinya 20 orang, kalau patungannya masih sisa, nanti dimasukkan kembali ke kas masjid,” jelasnya.

Bersambung halaman 3

Setiap hari selama bulan Ramadhan, Masjid Jogokariyan menyediakan kurang lebih 1700 takjil setiap harinya

Setiap hari selama bulan Ramadhan, Masjid Jogokariyan menyediakan kurang lebih 1700 takjil setiap harinya. Untuk lauk semua dibebankan kepada kelompok dasawisma yang jumlahnya sekitar 28. Kelompok-kelompok itu secara bergiliran memasak lauk setiap hari selama bulan Ramadhan, tapi hanya lauk. Karena nasi dan minuman di sediakan oleh masjid.

Untuk menanak nasi, meracik setup nanas, mencuci piring dan gelas, Masjid Jogokariyan punya tim sendiri yang terdiri dari warga sekitar. Tim inilah yang benar-benar punya kontribusi besar dalam menyukseskan acara buka puasa di masjid yang berdiri sejak 1966 itu.

Mereka bekerja setiap hari tanpa libur sebulan penuh. Yati Hartono, relawan yang masuk pada tim menanak nasi mengatakan ia dan dua temannya harus menanak beras sekitar 70 kilogram per hari.

Ia mulai menanak beras mulai pukul 11.30 WIB sampai sekitar 14.30 WIB. Setelah itu ia pulang sejenak sekedar untuk membersihkan badan dan mengganti pakaian. Pada pukul 15.00, ia sudah berada kembali di masjid untuk membantu mempersiapkan semua hidangan. Menjelang pukul 19.00, ia baru benar-benar pulang.

Yati sudah 13 tahun menjadi relawan disana. Ia mengaku menjadi relawan karena merasa terpanggil, “Masjid membutuhkan orang. Saya awalnya masuk setelah gantiin relawan lain yang meninggal dunia,” katanya sambil menciduk nasi.

Bersambung halaman 4

Tapi relawan ini tidak benar-benar bekerja tanpa upah

Tapi relawan ini tidak benar-benar bekerja tanpa upah, saat bulan Ramadhan akan mencapai puncaknya, biasanya masjid akan memberikan ‘uang lelah’. Tapi Yati mengaku tidak tahu berapa uang yang akan diterimanya nanti. Ia hanya menjawab “Dapet berapa pun, saya ikhlas.”

Menjelang pukul 16.00, Masjid Jogokariyan semakin sibuk. Para pemuda menggelar tikar di halaman masjid, ibu-ibu sibuk menyajikan makanan, tim setup nanas bergegas menyelesaikan tugasnya. Sementara di jalan Jogokaryan, manusia dan kendaraan bermotor tumpah ruah mencari makanan di pasar sore.

Suasana di kampung Jogokaryan, baik di dalam masjid maupun jalannya memang terasa semarak dan meriah. Ada aura kemenangan dan kebahagian yang kental didalamnya.

Izmail, Baitulmal Masjid Jogokariyan mengatakan penyediaan takjil untuk masyarakat sudah dimulai sejak awal berdirinya masjid. Hanya saja ia mengatakan, sejak tahun 2000 porsi yang diberikan semakin banyak. Karena porsi yang disediakan semakin banyak, akhirnya disepakati para ibu-ibu bergiliran membuat lauknya dengan subsidi dari masjid.

Ia mengatakan dalam penyajiannya, menu buka puasa selalu dihidangkan dalam piring karena jika makanan dihidangkan dalam kertas nasi, sampah yang dihasilkan akan sangat luar biasa.

Izmail menyampaikan Masjid Jogokaryan hanya menyediakan menu buka puasa, sedangkan menu untuk sahur, tambahnya, baru diadakan 10 hari menjelang puasa berakhir.

“Kami mengganti sahur dengan memberikan subsidi sahur kepada masyarakat yang kurang mampu. Yang terdiri dari beras, minyak goreng, telor dan mie. Ada 360 paket yang kami sebarkan,” katanya.