RAMADAN 2017 : Syiar Islam dalam Sepiring Bubur

31 Mei 2017 21:21 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Masjid Sabiilurrosya'ad, Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak setia melestarikan tradisi berbuka puasa

Harianjogja.com, BANTUL- Saat banyak masjid memilih menu-menu modern dan serba instan sebagai menu takjil, tidak dengan Masjid Sabiilurrosya'ad, Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak. Selama ratusan tahun, takmir masjid itu tetap setia melestarikan tradisi berbuka puasa.

Bubur e rodo abang ki. Krambil e [Buburnya agak memerah. Kelapanya ini].”

Tumpukan piring seng masih tertata rapi di meja dapur. Mbah Wardani, 60, masih sibuk menjawab pertanyaan kami. Suara tuanya dengan lancar menjelaskan perihal menu yang sudah sore itu, sejak pukul 15.00 WIB Selasa (30/5/2017) lalu.

Tak seperti biasanya, bubur yang sudah siap di gentong besar itu memang tampak memerah. Menurut Mbah Wardani, itu karena kualitas kelapa yang parutannya tak sempurna.

Tapi tak apalah. Baginya, ritual pembagian bubur sebagai takjil setiap bulan Ramadan bisa terus ia lestarikan.

Bubur lodeh. Begitu ia menyebut nama menu masakan itu.

Sederhana memang. Hanya beras dan kelapa saja sebagai bahan pembuat bubur, serta sayur lodeh tempe biasa sebagai kuah dan lauknya. “Sederhana. Tapi menu ini sudah kami masak secara rutin tiap Ramadan sejak puluhan tahun silam,” katanya, sontak membuat kami terkejut.

Bersambung halaman 2

Bubur lodeh. Begitu ia menyebut nama menu masakan itu.

Ternyata benar, Mbah Wardani serta dua rekan tuanya, Mbah Zurgoni, dan Mbah Hasanudin, adalah tiga serangkai yang menjadi aktor penting bubur itu. Sejak puluhan tahun silam, mereka lah yang mengolah bahan sederhana itu menjadi menu wajib masjid sebagai pembatal puasa. “Tentu kami dibantu bapak-bapak lainnya,” timpal Mbah Zurghoni.

Dalam sehari, lebih dari 4 kilogram beras ia pakai sebagai bahan baku bubur itu. Sejak pukul 15.00 WIB ia dan beberapa pria yang kebanyakan sudah sama-sama tua, memasaknya. Di atas tungku api yang terletak di sudut dapur itu, bahu membahu, para pria tua memasak menu yang sederhana itu, dengan cara yang sederhana pula.

Bahkan, setiap Jumat, porsi bubur yang mereka masak bisa berkali-kali lipat jumlahnya. Jika di hari biasa, mereka hanya menghidangkan menu bubur lodeh itu untuk anak-anak kecil saja, di hari Jumat, mereka harus menghidangkan menu itu untuk puluhan, bahkan ratusan jamaah masjid. Tak heran, di hari Jumat itu, bahan baku beras yang ia masak bisa mencapai lebih dari 10 kilogram.

“Sampun, Mbah. Monggo.” Tak lama, seorang pria yang berperawakan lebih muda dan tegap memasuki area dapur.

Bergegas. Mbah Wardani beranjak dari duduknya meninggalkan kami tanpa berkata-kata. Begitu pula dengan Mbah Zurgoni dan Mbah Hasanudin.

Bersambung halaman 3

Trio koki senja usia itu pun kembali bekerja

Trio koki senja usia itu pun kembali bekerja. Ada yang bertugas menuangkan bubur, ada yang menuangkan kuah, ada pula yang bertugas menuangkan teh ke dalam gelas bening.

Sedang di teras masjid, puluhan anak-anak sudah menunggu. Mereka bersila rapi menanti porsi berisi bubur lengkap dengan kuah lodeh tersaji. Barulah, tak lama beberapa pemuda datang membawa porsi bubur di atas nampan kayu.

Penyajian bubur lodeh itu jelas bukan tanpa alasan. Terlebih tradisi itu sudah dilakukan sejak masjid itu berdiri, sekitar 1570 silam. “Saya tak bisa menjelaskan sejarahnya, silakan sampean tanya Pak Kesra [Hariyadi, Kepala Urusan Kesra Desa Wijirejo],” cetus Mbah Wardani saat kami mendadak bertanya perihal sejarah tradisi itu.

Ternyata benar, saat kami mencoba menghubungi Hariyadi, cerita lengkap justru meluncur lancar dari mulutnya. “Pembawa tradisi ini adalah Panembahan Bodho,” cetus Sekretaris Ta'mir Masjid Sabiilurrosya'ad itu.

Menurut kabar, Panembahan Bodho merupakan cicit Prabu Brawijaya V, Raden Trenggono yang merupakan putra Raden Kusen, Adipati Terung.

Sementara Raden Kusen sendiri merupakan hasil pernikahan dari Putra Prabu Brawijaya, Raden Aryo Damar dengan seorang putri cina yang cantik jelita, Dorowati.

Bersambung halaman 4

Raden Trenggono mendapat sindiran dari kerabatnya agar ia segera mempersiapkan diri untuk menggayuh kemuliaan dan keluhuran untuk mencapai kaswargan

Menurut sejarah, suatu ketika, Raden Trenggono mendapat sindiran dari kerabatnya agar ia segera mempersiapkan diri untuk menggayuh kemuliaan dan keluhuran untuk mencapai kaswargan. Ada pula yang memberikan nasehat seperti diatas secara terang-terangan.

Pada suatu hari Raden Trenggono berjalan menelusuri sungai hingga sampailah pada sebuah hutan wijen dan bertemu dengan seorang yang gagah dan tampan. Melihat sosok orang tersebut Raden Trenggono timbullah keinginannya agar dapat menatap dan berbicara dengannya , namun karena begitu saktinya orang tersebut menyelinap dan menghilang dari pandangan Raden Trenggono, orang tersebut tidak lain adalah Sunan Kalijaga.

Karena Raden Trenggono berkeinginan mempunyai kesaktian dan ilmu seperti Sunan Kalijaga, maka ia mengabdi kepada Ki Ageng Gribig di Temanggung. Di Temanggung, Raden Trenggono semakin tinggi tekadnya untuk mempelajari dan mendalami ilmu agama Islam. Akhirnya ia diambil menantu oleh Ki Ageng Gribig dan mendapat tugas untuk menyiarkan agama Islam .

Dalam cerita masyarakat sekitar masjid, Panembahan Bodho bernama asli Adipati Trenggono. Dia yang disebut sebagai murid terakhir Sunan Kalijaga ini, dikisahkan menolak meneruskan jabatan Adipati Terong di Sidoarjo. Dia memilih mensyiarkan Islam di Desa Wijirejo.

“Di abad ke-16, beliau mendirikan masjid ini. Beliau mensyiarkan Islam dengan cara akulturasi budaya, salah satunya ya menu bubur lodeh ini,” papar Hariyadi.

Bersambung halaman 5

Akulturasi budaya itu tampak dari cara Panembahan Bodho menyajikan bubur

Akulturasi budaya itu tampak dari cara Panembahan Bodho menyajikan bubur. Bubur yang merupakan makanan khas Gujarat, India, diadopsi dengan menggunakan sayur lodeh khas lidah Jawa.

Dipilihnya bubur sayur lodeh, karena makanan ini sangat familiar bagi masyarakat Jawa. Apalagi menggunakan yakni tempe dan tahu setiap penyajiannya. Namun pada waktu-waktu tertentu seperti pada hari Jumat, warga terkadang mengganti sayur lodeh dengan daging ayam.

Bibirrin, beber, dan babar. Tiga istilah itulah yang dianggap menjadi makna utama dari tradisi bubur lodeh.

Bibirrin yang berarti dengan kebagusan. Beber, dimaksudkan, sebelum takjil dibagikan ke jamaah masjid, mereka dijelaskan terkait dasar-dasar ajaran Islam. Makna terakhir adalah babar. Filososinya ajaran Islam harus menyatu dengan masyarakat, tanpa memandang status sosial dari mana dia berasal. “Babar itu simbol persatuan umat Islam, berlaku untuk seluruh kalangan muslim tanpa terkecuali,” tegasnya.

Selain itu, tekstur bubur yang halus, ternyata juga mengandung filosofi sendiri. Bagi Hariyadi, syiar Islam itu harus disampaikan dengan cara yang halus. “Bukan dengan pedang atau kekerasan. Islam harus disampaikan dengan lemah lembut.”

Kini, seolah tak lekang oleh jaman dan segala jenis makanan instan, penyajian ta’jil di masjid itu masih berlangsung sesuai tradisi yang berlaku ratusan tahun silam. Lebih dari sekadar melestarikan tradisi, makna penyajian bubur lodeh itu terus diresapi dan diturunkan pada generasi-generasi muda lainnya.