Rabu Wage, Saatnya Melestarikan Nilai Budaya Melalui Macapatan

25 Januari 2018 12:55 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman menggelar Lelangen Macapat dan Sarasehan” setiap bulan pada Rabu Wage

Harianjogja.com, SLEMAN- Sebagai komitmen pemerintah melestarikan budaya, Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman menggelar Lelangen Macapat dan Sarasehan” setiap bulan pada Rabu Wage. Gelaran tersebut bertempat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman.

Lelangen Macapat tersebut melibatkan Paguyuban Seni Macapat “Sekar Manunggal Sleman Sembada”.  Pada Selasa (23/1/2018) misalnya, kegiatan tersebut juga diikuti oleh Bupati Sleman Sri Purnomo.

"Ini bentuk komitmen kami, bagaimapun pemerintah harus memberi contoh. Kami juga gelar sarasehan budaya dengan topik “Ngelmu Katon” menghadirkan budayawan Purwadmadi," kata Kepala Disbud Sleman Aji Wulantara, Kamis (25/1/2018).

Bupati Sleman Sri Purnomo mengapresiasi Paguyuban Seni Macapat “Sekar Manunggal Sleman Sembada” yang mampu melestarikan dan mengembangkan seni macapat.

Hal itu dinilai sebagai bukti dan langkah nyata warga dalam melestarikan dan mengembangkan budaya. "Hal ini tentunya akan memberi kontribusi positif dalam membangun masyarakat yang berbudaya," kata Sri.

Membangun masyarakat Sleman yang berbudaya pada hakekatnya merupakan upaya pembangunan kualitas sumberdaya manusia. Mengingat dalam seni macapat banyak terkandung nilai dan pesan moral yang positif dalam rangka membangun peradaban manusia sebagai insan yang bermartabat.

Purwadmadi dalam sarasehan tentang falsafah “Ngelmu Katon” mengatakan falsafah ini sangat sederhana namun memiliki makna yang dalam dan penting dengan kehidupan masyarakat.

Istilah “Ngelmu Katon” dalam hal ini bukan merupakan antonim dari ilmu yang bersifat batin. Akan tetapi diartikan sebagai kehadiran secara fisik dalam hidup bertetangga, bersaudara dan dalam pergaulan bermasyarakat.

Sebagai makhluk sosial, manusia pada hakekatnya memiliki sifat saling membutuhkan dan tidak bisa hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain. Namun seiring dengan kemajuan dan perkembangan peradaban seringkali ngelmu katon tersebut dianggap sepele atau bahkan justru dilalaikan meskipun sebenarnya tidak sulit untuk dilaksanakan. Istilah Jawa rasa rumangsa, angon rasa, momong rasa, trapsila subasita, akan memiliki makna yang penting dan hakiki dalam pergaulan bermasyarakat.

Oleh karenanya ngelmu katon  dalam pelaksanaannya akan lebih ringan apabila dilandasi dengan jiwa dan hati yang ikhlas serta “lila legawa” atau tulus secara lahir maupun batin. Keberadaan dan kehadiran seseorang dalam berbagai kegiatan dan aktivitas sosial akan menimbulkan penilaian yang positif.

"Itu juga akan menghilangkan prasangka negatif yang pada gilirannya mendukung berkembangnya tatanan masyarakat yang humanis dan berbudaya tinggi," katanya.