Idealnya Seluruh Rumah Sakit Punya Bank Darah

02 Februari 2018 23:20 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Kasus kematian pasien akibat pendarahan cukup tinggi

Harianjogja.com, SLEMAN-Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman mendorong agar setiap rumah sakit di Sleman bekerjasama memiliki bank darah. Kondisi tersebut mendesak dilakukan karena kebutuhan darah di Sleman cukup tinggi.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan, penyediaan bank darah ini terkait penanganan, kecepatan, dan keselamatan pasien. Pasalnya, kasus kematian pasien akibat pendarahan cukup tinggi seperti kematian ibu hamil yang didominasi karena terjadi pendarahan.

“Ketika darah itu dibutuhkan, ada dan tersedia di rumah sakit. Sehingga tidak perlu lari-lari ke sana ke mari," kata Muslimatun dalam acara Evaluasi Pelayanan Unit Transfusi Darah (UTD) dan Pencermatan Draft MoU di Hotel Prima SR, Beran, Tridadi, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, bank darah sebenarnya merupakan kebutuhan rumah sakit. Bank darah digunakan untuk memberikan pelayanan darah pada pasien yang diambil dari PMI. Ketika ada kondisi kegawatdaruratan atau dibutuhkan, darah tersedia dan tidak perlu mencari keluar. "Ketersedian darah di bank darah juga berdampak langsung pada efisiensi waktu penyelamatan pasien," ujarnya.

Sementara itu, Ketua PMI Sleman Sunartono menjelaskan, idealnya seluruh rumah sakit di Sleman harusnya memiliki unit transfusi darah sendiri. Sayangnya, dari sekitar 25 rumah sakit yang beroperasi di Sleman, hanya sebagian kecil saja yang memiliki layanan tersebut.

Padahal, berdasarkan data BPJS Sleman di wilayah Sleman sendiri tercatat sebanyak 10.000 pasien yang memiliki penyakit katastropik. Dari jumlah tersebut 80% merupakan pasien gangguan jantung. Sisanya adalah penderita kanker (12%), stroke (7%), gagal ginjal (1%), dan sisanya penyakit kanker dan hepatitis.

Adapun rata-rata kebutuhan darah per bulan untuk Sleman, kata Sunartono, sebanyak 1.000 kantong. PMI Sleman, katanya, tidak melayani pengambilan perorangan melainkan antarlembaga (rumah sakit dengan PMI). Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pelayanan prima pada pasien. "Dengan begini, pasien tidak perlu direpotkan dengan persoalan darah sekaligus untuk menjaga kualitas darah," ujarnya.

Menurutnya, perlakuan terhadap darah juga tidak semua orang paham. Suhu untuk menyimpan darah harus benar-benar dijaga agar kualitasnya tetap baik sehingga membutuhkan tempat khusus untuk menyimpan seperti bank darah. Oleh karena itu, ada biaya perawatan darah per kantong sebesar Rp360.000.

“Kalau darah diambil langsung oleh keluarga pasien sudah pasti tidak standar dan kualitasnya turun. Kalau kualitas darah turun dan sampai pada pasien untuk ditransfusikan ya boleh dikata muspro [sia-sia],” katanya.