Uskup Agung Semarang Maafkan Penyerang Gereja

20 Februari 2018 10:20 WIB Sleman Share :

Ia mengaku tidak memiliki rasa benci kepada Suliyono yang mengamuk

Harianjogja.com, SLEMAN-Monsinyur Robertus Rubyatmoko Pr, Uskup Agung Semarang yang menjadi pemimpin umat Katolik DIY dan Jawa Tengah memaafkan Suliyono, penyerang Gereja St. Lidwina Stasi Bedog, Gamping, Sleman.

“Sejak awal kami sudah memaafkan [Suliyono],” kata Monsinyur Rubyatmoko di sela-sela kunjungan ke kediaman tokoh nasional Buya Syafii Maarif di Nogotirto, Gamping, Senin (19/2/2018) sore.

Meski sejumlah jemaat gereja terluka karena sabetan pedang, ia mengaku tidak memiliki rasa benci kepada Suliyono yang mengamuk di Gereja St. Lidwina pada Minggu (11/2/2018) lalu.

Rubyatmoko meminta umatnya mendoakan yang terbaik untuk Suliyono yang tengah menjalani proses hukum. Dia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Buya Syafii. Baginya, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu sudah membantu memberikan ketenangan seusai penyerangan yang mengakibatkan lima orang terluka itu.

“Beliau [Buya Syafii] spontan cepat tanggap menenangkan semuanya untuk tidak menjadi emosional, tidak terpancing. Masyarakat menjadi tenang, bahkan muncul persaudaraan yang kuat,” ujar dia.

http://m.harianjogja.com/?p=894442">Baca juga : PENYERANGAN GEREJA : Pelaku Dibawa ke Jakarta Selasa Malam

Uskup Agung Semarang berkunjung ke rumah Buya Syafii khusus untuk mengucapkan rasa terima kasih. Dia didampingi Romo Paroki Kemetiran Yohanes Dwi Harsanto dan Ketua Komisi KKPKC Keuskupan Agung Semarang Romo FX Hendra Wijayanto.
Buya Syafii bersyukur mendapat kunjungan Uskup Agung Semarang. Ia mengajak seluruh warga menggunakan akal sehat.

“Apa pun risikonya, saya siap dihujat. Mudah-mudahan pelaku [penyerangan gereja] sadar. Banyak kasus penyerangan rumah ibadah di lokasi lain,” kata Buya.

Buya adalah sosok yang sangat intensif menenangkan suasana selepas penyerangan Gereja St. Lidwina. Dia mendatangtangi lokasi penyerangan, juga menemui Suliyono yang dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY.

Buya menilai kultur kebencian masih dirawat di sejumlah kelompok kecil dan cukup mengganggu kehidupan bermasyarakat. Dia mengharapkan Indonesia bisa lebih aman tanpa adanya kekerasan yang berlatar belakang agama.

“Tindak kekerasan selama ini terjadi karena ideologi impor dan ketimpangan sosial ekonomi,” ujar dia.

Setelah berkunjung ke kekediaman Buya, Uskup Agung Semarang melanjutkan kegiatan di DIY dengan memimpin misa syukur di Gereja St. Lidwina. Kegiatan ini diikuti ratusan anggota jemaat yang memadati hampir setiap sudut bangunan gereja. Ia mengharapkan insiden di gereja tersebut pekan lalu itu menjadi pelajaran yang baik bagi semua.

“Kami ingin umat Katolik dan masyarakat yang trauma bisa melupakan peristiwa yang tidak diharapkan itu,” kata dia.