Potensi Singkong Gunungkidul Belum Tergarap Maksimal

22 Februari 2018 19:55 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Produktivitas singkong di Gunungkidul belum maksimal

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Produktivitas singkong di Gunungkidul belum maksimal. Ini terlihat dari hasil panen yang diperoleh petani.

Setiap hektare tanaman singkong dapat berproduksi hingga 25 ton. Namun faktanya, saat ini produksi singkong masih di kisaran 15-16 ton per hektare.

Sekretaris Daerah Gunungkidul Drajad Ruswandono mengatakan, potensi budidaya singkong masih belum maksimal. Hal ini terlihat dari hasil panen yang diperoleh petani yang belum sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang membuat pengembangan komoditas belum maksimal. Selain masalah masa tanam yang relative lama, pola pemeliharaan yang sekadarnya membuat hasil yang diperoleh tidak maksimal.

“Potensinya bisa mencapai 25 ton per hektare, tapi kenyataannya panen yang diperoleh baru 15-16 ton per hektare,” kata Drajad kepada wartawan di sela-sela kegiatan pembukaan pembibitan kebung singkong di Desa Kemiri, Tanjungsari, Rabu (22/2/2018).

Menurut dia, potensi yang dimiliki dapat dimaksimalkan. Salah satunya dengan menggandeng Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan (MPMP) Muhammadiyah DIY, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan hingga Bank Indonesia untuk pengembangan pola penanaman yang lebih baik.

“Diharapkan dengan kerja sama ini maka Kemiri bisa menjadi sentra singkong dan selanjutnya bisa dikembangkan di daerah lain di Gunungkidul,” ujarnya.

Menurut Drajad, jenis singkong yang dikembangkan merupakan varietas lokal yang bernama Gatotkaca. “Jenis ini dipilih karena dapat tumbuh dengan baik di Gunungkidul. Jadi harapannya dengan kerjasama ini dapat mengoptimalkan produski singkong yang dimiliki petani,” imbuhnya.

Lebih jauh dikatakan Drajad, kerja sama dalam budidaya singkong tidak hanya berhenti pada program pembibitan dan produksi. Namun, MPMP Muhammadiyah juga berencana menggelar kongres singkong nasional di Gunungkidul.

Secara prinsip, katanya, pemkab siap mendukung kegiatan tersebut karena sebagai salah satu langkah untuk mengantisipasi adanya impor singkong dari luar negeri.

“Kongres ini sangat penting sehingga pemkab sangat mendukung agar potensi singkong yang dimiliki dapat dioptimalkan sehingga tidak ada lagi impor,” ujarnya.

Ketua MPMP Muhammadiyah DIY, Dwi Kuswantoro mengatakan, Gunungkidul memiliki potensi singkong yang sangat besar. Namun dikarenakan cara budidaya yang masih konvensional membuat hasil panen yang diperoleh kurang maksimal.

“Kami lakukan pembibitan dan budidaya, salah satunya untuk meningkatkan produksi singkong di Gunungkidul,” katanya.

Menurut dia, pendampingan yang diberikan tidak hanya sebatas pengembangan benih, namun juga disertai dengan pola penanaman dan cara pemeliharaan yang benar.

“Mudah-mudahan pendampingan yang diberikan dapat membuahkan hasil yang baik dengan meningkatnya produktivitas panen singkong,” katanya.