69 Siswa di Dlingo Masih Belajar di Kelas Darurat

27 Februari 2018 18:20 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Nasib 69 murid SMP Muhammadiyah 2 Dlingo hingga kini masih terkatung-katung

Harianjogja.com, BANTUL--Nasib 69 murid SMP Muhammadiyah 2 Dlingo hingga kini masih terkatung-katung. Diperkirakan saat ujian pada Mei nanti mereka masih harus bertahan di kelas darurat. Pasalnya pembangunan gedung sekolah baru hingga kini masih dalam proses pembahasan.

Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 2 Dlingo, Maryono membenarkan hal tersebut. Menurutnya pihak yayasan kini tengah membahas opsi untuk membeli lahan milik warga yang nantinya bakal digunakan untuk membangun gedung sekolah yang baru.

Lahan seluas kurang lebih 9000 meter persegi atau hampir 1 hektare tersebut berada tak jauh dari lokasi berdirinya kelas darurat yang kini ditempati.

Jaraknya kira-kira 200 meter ke sebelah timur atau berada di sebelah utara jalan. "Tapi sampai sekarang masih rembugan, belum dibeli," ucapnya, Selasa (27/2/2018).

Oleh sebab itu, Maryono memperkirakan hingga waktu ujian pada Mei nanti puluhan muridnya masih harus melaksanakan ujian di kelas darurat. Meskipun tak lagi memakai tenda, ia mengakui ujian di kelas darurat bisa jadi cukup menguras pikirannya.

Sebab kelas darurat tersebut masih berbentuk semi terbuka, tidak tertutup seluruhnya. Selain itu, berdasarkan pantauan Harian Jogja di lapangan dari tiga kelas darurat yang ada, dua kelas yakni VII dan VIII masih bersisian. Sisi depan kelas pun terbuka yang digunakan untuk keluar masuk siswa dan guru.

Sedangkan bahan galvalub yang digunakan untuk membangun kelas darurat tersebut juga hanya dipasang separuh dinding saja. Meskipun demikian, Maryono mengklaim kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas darurat tersebut jauh lebih nyaman daripada dilakukan di tenda.

"Kalau kelas IX memang kelasnya pisah karena mereka butuh konsentrasi lebih," katanya.

Lebih lanjut Maryono menyebut bakal mempertimbangkan untuk memakai gedung SD Seropan lama untuk tempat ujian murid-muridnya. Menurutnya Pemdes Muntuk memang telah mempersilakan pihak sekolah menggunakan gedung tak terpakai dengan empat ruang kelas tersebut untuk sementara waktu.

Sebab kelas darurat yang kini dipakai berada di halaman Masjid Al-Amin dan puskesmas pembantu (Pustu) Muntuk. Untuk Pustu Muntuk, Maryono menyebut memang hanya dimanfaatkan tiap Senin dan Rabu. Namun untuk masjid tentu saja dipakai warga setiap hari.

"Mungkin bakal pakai gedung SD Seropan lama karena kalau nunggu gedung baru pasti masih lama," imbuhnya.