Berkunjung ke Kraton Jogja, Direktur IMF Disuguhi Lombok Kethok

01 Maret 2018 11:22 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mengunjungi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Rabu (28/2/2018) malam. Kasultanan menjamu Christine dengan makanan dan tarian khas.

Mula-mula Christine dan tamu undangan yang lain di jamu minuman sereh, lalu disuguhi makanan? pembuka berupa selada huzar. Kemudian selepas itu disajikan sop timlo.

Selang beberapa waktu, datang makanan utama yang terdiri dari nasi, bebek suwar suwir, udang bago bakar, jamur lada hitam, lombok kethok dan oseng daun pepaya.

Selain dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan HB X, jamuan itu juga dihadiri oleh petinggi Pemda DIY seperti Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Gatot Saptadi, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono, Kepala Dinas Pariwisata Aris Riyanta dan lain lain. Putri bungsu HB X, GKR Bendoro juga nampak ikut hadir.

Dalam sambutannya, Christine mengatakan kunjungannya ke Indonesia bisa dikatakan sebagai kunjungannya terlama ke sebuah negara. Ia sendiri berkunjung ke Indonesia dalam rangka persiapan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Bali pada Oktober 2018.

Ia mengaku berkunjung ke Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dengan tujuan ingin mengenal budaya kerajaan yang lahir dari rahim Kesultanan Mataram itu. "Saya merasa senang dengan sambutan Sultan," ucapnya.

Sementara HB X dalam sambutannya mengatakan, sengaja menampilkan hiburan berupa tarian khas Keraton karena seni tari adalah salah satu unsur dalam seven universal, yang bisa dijadikan permenungan, ketika jenuh dengan angka-angka. Saat kejenuhan menyerbu, jalan yang bijak adalah menyelam ke danau kebudayaan.

"Di sana airnya sebening sang kudus dan sebiru nirmala. Dengan metafora itu ingin menyampaikan budaya bisa jadi arus utama menjinakkan dimensi ekonomi yang kerap menimbulkan konflik. Saat ini waktu yang tepat menunjukkan kepada cendikiawan dunia bahwa kebudayaan mampu mempertajam imajinasi para pelakunya," ujar HB X.

Hal itu, sambungnya, sejalan dengan pemikiran budayawan Lévi-Strauss, yang menyatakan bahwa seluruh dinamika perubahan, kreativitas dan kebangkitan ekonomi bisa jadi penuntun dan tidak bertabrakan dengan budaya, tapi sebaliknya malah menciptakan harmoni antarbudaya.

"Dalam rangka pemikiran itu, IMF dan Bank Dunia punya potensi besar merubah paradigma ekonomi ke arah pendekatan budaya yang lebih soft. Harapannya substansi itu bisa dibawa dalam Annual Meeting di Bali," tutup Sang Raja.