Minat Siswa asal Gunungkidul untuk Melanjutkan Sekolah Perlu Ditingkatkan

02 Maret 2018 21:55 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Kemauan siswa asal Gunungkidul untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi dinilai masih kurang

 

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Kemauan siswa asal Gunungkidul untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi dinilai masih kurang. Hal ini dinilai menyumbang angka putus sekolah di Gunungkidul.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora), Gunungkidul, Bahron Rasyid mengatakan saat ini tidak hanya faktor ekonomi yang menyebabkan angka putus sekolah.

"Tidak melulu masalah ekonomi yang menyebabkan putus sekolah. Namun lingkungan atau kemauan untuk anak sekolah sendiri terkadang masih kurang, mereka lebih memilih untuk bekerja," ujarnya Kamis (1/3/2018).

Saat ini sendiri angka putus sekolah di SD sekitar 0,03 dari 57.000 anak, SMP sekitar 0,03 dari 27.000 anak, dan di SMA/SMK pada kisaran 0,06 dari 27.000 anak.

Bahron mengatakan berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan angka putus sekolah itu. Mulai dari bantuan beasiswa, pemahaman kepada orangtua maupun pada anak sendiri untuk mau bersekolah.

Dia mengharapkan pada anak-anak di Gunungkidul untuk melanjutkan sekolah hingga lulus SMA atau sejajarnya. "Saya harap dapat 12 tahun belajar anak-anak. Hal itu dapat membuat peluang kerja lebih baik dibanding lulus SMP atau SD," katanya.

Dia juga mengatakan SMK dapat menjadi rujukan pilihan, karena di SMK selain kejuruan yang diajarkan juga kecakapan siswa diajarkan. SMK juga diharapkan mencetak lulusan yang siap bekerja.

Sebelumnya, Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen), Gunungkidul, Sukito mengatakan pemerintah DIY juga telah membantu meringankan beban pendidikan dengan kartu cerdas.

Para lulusan SMK juga diharapkannya berkompeten setelah lulus. Saat ini ada 46 SMK di Gunungkidul. "Di Gunungkidul ada 46 dimana 13 Negeri dan 33 swasta, jumlah siswa ada 19.115 siswa," ujarnya.

Dia mengatakan beberapa SMK juga telah direvitalisasi dengan menutup jurusan yang kurang diminati dan membuka jurusan yang sekiranya banyak diminati masyarakat maupun berpeluang besar dalam lapangan pekerjaan nanti.