Harga Tanah di Sentolo Melambung Investor Ragu Berinvestasi

12 Maret 2018 20:40 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Harga tanah naik setelah Sentolo ditetapkan sebagai kawasan industri.

Harianjogja.com, KULONPROGO--Harga tanah di Kawasan Industri Sentolo mengalami kenaikan sebesar empat hingga lima kali lipat. Kondisi itu memicu sejumlah investor tak langsung membeli tanah.

Seperti dikemukakan oleh Kepala Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Panut Hadi Santoso. Kenaikan harga tanah per meter persegi di desa tersebut telah terjadi sejak ditetapkannya Sentolo sebagai sebuah kawasan industri. Sebelumnya, harga tanah di desa tersebut berada pada kisaran Rp75.000 hingga Rp100.000 per meter persegi. Namun sejak ditetapkan menjadi Kawasan Industri Sentolo, harga tanah per meter persegi bisa melonjak menjadi sekitar Rp400.000.

"Itu harga pada tahun 2016, saat itu jalan di sana mulai dilakukan pelebaran. Harga naik juga mungkin karena sekarang kawasan mulai ditunjang sarana dan prasarana," kata dia, Senin (12/3/2018).

Panut tidak menampik, harga tanah yang tinggi tersebut tidak jarang membuat para calon investor 'maju-mundur' atau terkesan ragu dan pikir-pikir dahulu bila akan membeli tanah di Tuksono. Harga tanah di Tuksono bisa lebih dari yang ia sebutkan tadi, mengingat harga selalu mengikuti harga pasar. Terlebih lagi, terdapat perbedaan dalam penentuan batas harga, ketika transaksi jual beli tanah dilakukan antar pribadi dibanding lewat tim penaksir (appraisal).

Kepala Bidang Industri Dinas Perdagangan Kulonprogo, Dewantoro menjelaskan, harga tanah yang mahal di Sentolo menyebabkan pertumbuhan investasi di Kawasan Peruntukan Industri Sentolo menjadi lambat. Padahal diketahui ada banyak calon investor yang ingin meminang lahan di Sentolo.

"Tapi setelah melihat penguasaan lahan cukup sulit, maka mereka mengurungkan niat berinvestasi," terangnya.