UGM Klaim Punya Pasukan Sandi Pemberantas Perjokian PMB

13 Maret 2018 19:40 WIB Sunartono Sleman Share :

Kasus perjokian kerap terjadi saat penerimaan mahasiswa baru.

Harianjogja.com, SLEMAN--Sejumlah kampus menggunakan berbagai cara untuk mengantisipasi perjokian dalam proses penerimaan mahasiswa baru (PMB) 2018. UGM yang mengerahkan pasukan sandi, sementara Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) membentuk tim anti perjokian.

Rektor UGM Prof Panut Mulyono mengakui kasus perjokian dalam ujian PMB di UGM telah lama ada. Oleh karena itu, pihaknya meyakini UGM sudah sangat pengalaman dalam menangani tingkah para joki tersebut. "Saya kira usaha untuk masuk UGM dengan cara yang baik itu pasti. Tetapi cara yang tidak baik, rasanya ya tetap saja ada walaupun itu sering ya pasti tidak kami kehendaki. Kami mempunyai metode berdasarkan pengalaman lalu itu ada antisipasinya," ungkapnya kepada Harianjogja.com, Selasa (13/3/2018).

Ia menambahkan, langkah antisipasi yang dilakukan UGM adalah memberikan pemahaman dan sosialisasi secara detail terhadap tim pengawas ujian, seperti koordinator lokasi, koordinator ruang dan penjaga ruang. Tim itu diberikan pemahaman tentang pengawasan yang baik, pencegahan terjadinya perjokian. Selain itu, UGM memiliki mekanisme berbagai macam kode soal serta cara membagi soal di dalam ruangan dengan kode berbeda yang dapat mencegah terjadinya perjokian.

Selain tim pengawas, lanjut Panut, UGM memiliki pasukan sandi yang terdiri dari beberapa personel yang secara khusus diberikan tugas untuk melakukan pemantauan terjadinya perjokian. Meski enggan menjelaskan secara detail pasukan sandi tersebut, namun ia memastikan personelnya sangat berpengalaman dalam menangani tindak perjokian yand dibentuk secara informal.

"Kami kan sudah mengadakan lama sekali, berbagai modus pernah terjadi. Sehingga kami sudah belajar banyak dan dari pelajaran itu membuat, istilahnya pasukan sandi. Tetapi ini tidak kami sampaikan ke masyarakat detailnya," imbuh dia.

 

Antisipasi perjokian tidak hanya dilakukan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) namun juga PTS, salah satunya UMY. Kepala Urusan Penerimaan Mahasiswa Baru (Penmaru) UMY Mawardi Achmad menyatakan, pihaknya melakukan berbagai antisipasi, antara lain membentuk tim anti perjokian. Selain dari internal kampus tim ini dibantu aparat kepolisian untuk memudahkan penanganan ketika ditemukan kasus. “Untuk mengatasi perjokian ini kami membentuk sebuah tim anti perjokian yang bekerjasama langsung dengan pihak kepolisian,” terangnya belum lama ini.

Selain itu, lanjutnya, tim juga membuat 5.000 jenis soal berbeda serta menerapkan metode terbaru melalui finger print dan foto wajah. Sehingga sebelum para peserta tes memasuki ruang ujian, dilakukan finger dan foto wajah. “Setelah selesai ujian, peserta juga harus melakukan finger dan pengecekan wajah," jelasnya.