Fasilitas Pendidikan bagi Difabel di Gunungkidul Perlu Ditingkatkan

15 Maret 2018 21:20 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Dari 200 sekolah inklusi, belum semua memiliki fasilitas standar bagi difabel

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Kaum difabel di Gunungkidul merasa belum mendapatkan hak sepenuhnya dalam bidang pendidikan. Fasilitas sekolah inklusi dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar.

Ketua Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul Hardiyo mengatakan, banyak kaum difabel yang kesulitan untuk beraktivitas di sekolah umum, meski sudah berstatus ramah difabel. Berdasar data dari Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul, sekolah dasar yang sudah menyatakan diri sebagai sekolah inklusi atau ramah difabel, kurang lebih 200 sekolah.

“Tetapi dari 200 sekolah tersebut belum semuanya memiliki fasilitas standar bagi difabel,” katanya Rabu (14/3/2018).

Hal tersebut dapat dilihat mulai dari aksesbilitas bagi pengguna kursi roda sudah ada, tetapi tidak layak. Landasan dinilai masih curam sehingga menyulitkan bagi pengguna kursi roda. Kamar mandi juga masih sempit.

“Padahal kedua hal tersebut sangat penting bagi kaum difabel supaya merasa nyaman sekolah di sekolahan umum,” katanya.

Selain dari fasilitas fisik, dia juga menyoroti tenaga pendidik yang juga belum memahami kebutuhan siswa difabel. Hardiyo mengatakan, ada beberapa siswa tuna rungu yang kesulitan menerima ilmu, karena tenaga pendidik tidak menguasai bahasa isyarat.

“Kami hanya bisa berharap pemerintah memberikan fasilitas pendidikan yang layak bagi kaum difabel, memberikan tenaga pendidik yang mampu memahami siswa difabel, khususnya di sekolah yang sudah menyatakan inklusi. Selain itu kaum difabel juga sangat berharap sekolah inklusi tidak hanya di tingkat SD, tetapi di seluruh tingkatan,” kata Hardiyo.