Ini yang Bikin Kredit Barang Elektronik di Jogja Meningkat

19 Maret 2018 15:55 WIB Holy Kartika Nurwigati Jogja Share :

Tren pembiayaan elektronik meningkat.

Harianjogja.com, JOGJA--Minat masyarakat terhadap layanan pembiayaan untuk produk elektronik maupun furnitur atau leasing, diklaim meningkat. Sebagai penyedia layanan pembiayaan, Spektra menilai jumlah konsumennya terus meningkat kini jumlah konsumen loyal di Jogja kurang lebih mencapai 61.000 konsumen.

Marketing Manager Spektra Area Jogja, Dhaneswara mengatakan tren minat masyarakat terhadap pembiayaan mulai meningkat. Dia mengatakan tren pembiayaan cenderung naik. "Salah satunya karena adanya pergeseran dari yang tadinya masyarakat membeli produk elektronik ini secara tunai, sekarang beralih ke sistem kredit," ujar Dhaneswara pekan lalu.

Bergesernya tren pembelian secara tunai ke sistem kredit, karena beragamnya promosi yang ditawarkan. Selain itu, kemudahaan pembiayaan produk secara kredit menjadi salah satu pilihan menarik bagi konsumen.

Sebagai salah satu anak perusahaan FIF, secara nasional Spektra telah memiliki 818.000 konsumen aktif. Dhaneswara mengungkapkan untuk di Jogja, sedikitnya ada 61.000 konsumen aktif yang mana jumlahnya terus tumbuh.

"Kami optimis pasar untuk pembiayaan ini, baik di DIY maupun nasional masih ada dan terus tumbuh. Saat inipun, risiko kredit atau NPL kami juga relatif kecil yakni hanya sekitar satu persen," ungkap Dhaneswara.

Sementara itu, Spektra Head Office, Steven Nathaniel menambahkan pembiayaan untuk produk elektronik, khususnya gawai masih menempati porsi yang lebih besar. Namun, diakuinya, setiap daerah memiliki kecenderungan minat produk elektronik yang berbeda.

"Untuk wilayah perkotaan biasanya paling banyak pembiayaan ada pada gadget [gawai], seperti ponsel. Seperti di Jogja ini, 55 persen pembiayaannya pada gadget," ungkap Steven.

Sedangkan secara nasional, porsi pembiayaan gadget dan ponsel sebesar 43,33%, diikuti produk elektronik dengan porsi 40,33%, furnitur 14,2%. Tahun ini, kata Steven, target pembiayaan secara nasional diharapkan dapat mencapai Rp3,6 triliun.

"Tahun lalu pencapaian Rp3,08 triliun dari target Rp3 triliun. Tahun ini, ditargetkan bisa mencapai Rp3,6 triliun," jelas Steven.