Distribusi Belum Merata, Bawang Putih Masih Mahal

22 Maret 2018 07:55 WIB Holy Kartika Nurwigati Jogja Share :

Harga bawang putih di Jogja masih mahal

Harianjogja.com, JOGJA-Ketergantungan komoditas impor, yakni bawang putih, membuat harga komoditas ini terus mengalami kenaikan di momen tertentu. Hingga saat ini harga di pasaran masih mencapai Rp55.000 sampai Rp60.000 per kilogram.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati mengungkapkan impor komoditas ini sudah kembali normal. "Tetapi persebaran distribusi komoditas ini memang mungkin belum merata, jadi harga masih relatif tinggi," ujar Yuna, Rabu (21/3/2018).

Yuna memaparkan ketergantungan impor bawang putih memang sangat tinggi. Diakui dia, meski komoditas ini sudah mulai masuk ke Indonesia, hanya saja distribusi yang belum merata membuat pedagang di daerah masih menjual bawang putih dengan harga tinggi.

"Kalau tahun lalu, jelang Lebaran memang harganya [bawang putih] naik dan cukup mahal. Kami harap distribusi segera merata, sehingga harga di pasaran bisa perlahan normal," jelas Yuna.

Di pasaran, kata Yuna, harga bawang putih di pasaran rerata masih berkisar di atas Rp50.000 per kilogram. Berdasarkan pantauan rutin yang dilakukan oleh Disperindag DIY di Pasar Kranggan, Pasar Beringharjo dan Pasar Demangan, rerata harga komoditas ini Rp53.000.

"Harga bawang putih di Pasar Kranggan yang paling mahal. Di sana harganya sampai Rp60.000 per kilogram," ungkap Yuna.

Sedangkan untuk komoditas beras, perlahan harga mulai turun. Kendati harga beras medium masih dipatok di atas harga eceran tertinggi, namun pihaknya optimis, harga komoditas ini akan berangsur normal. Terlebih lumbung padi di berbagai daerah mulai panen raya.

"Untuk harga beras rata-rata di pasaran sekitar Rp10.000 sampai Rp11.000. Memang masih di atas harga eceran tertinggi yakni Rp9.450 per kilogram. Tetapi diharapkan segera turun, menyusul banyak daerah mulai panen raya," jelas Yuna.

Terkait jelang Ramadan, Yuna memaparkan akan terus melakukan koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY. Hal itu terkait pemantauan sejumlah bahan pokok yang harganya cenderung mengelami kenaikan di momentum tersebut.