Bukan Hanya Fashion, Bagi Anne Avantie, Peragaan Busana juga Menampilkan Budaya

26 Maret 2018 06:20 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Desainer kenamaan Indonesia, Anne Avantie memperlihatkan karya-karyanya di Jogja Fashion Festival (JFF)

Harianjogja.com, JOGJA – Desainer kenamaan Indonesia, Anne Avantie memperlihatkan karya-karyanya di Jogja Fashion Festival (JFF) 2018 pada 25 Maret 2018 sebelum memperlihatkan karya tersebut ke gelaran 29 Tahun Mahakarya Anne Avantie di Jakarta.

Dalam preview yang digelar di The Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Yogyakarta tersebut, Anne yang kini menjadi brand ambassador Kekaseh bermain dengan warna-warna putih dan peach yang menonjolkan kebudayaan.

Anne Avantie mengatakan melalui preview karya-karyanya dia ingin melukiskan 29 tahun perjalanan karirnya yang tak selalu bertinta emas. Anne ingin menunjukkan pada khalayak bahwa karya-karyanya menampilkan gaya dari masa ke masa.

“Saya akan bermain di warna peach dan putih. Karya yang saya tampilkan itu merupakan metamorfosa dari dinamika kehidupan dan lebih menonjolkan budaya,” kata Anne, Sabtu (24/3/2018).

Dalam menampilkan karya-karyanya selama ini, Anne selalu menggunakan tema tribute. Pada preview showcase kali ini, Anne menyelenggarakan showcase tribute to Waljinah. Anne mengatakan sosok Waljinah begitu menginspirasi perjalanan karirnya, oleh karena itu, saat preview showcase diputarkan lagu-lagu Waljinah.

Selain itu, proses adalah alasan Anne selalu menggunakan tema tribute. “Saya ingin memberikan yang terbaik buat inspirasi saya yang kini beliau sedang sakit,” kata Anne.

Pemilihan model yang memeragakan karya-karya Anne pun juga khusus di-request oleh Anne Avantie sendiri. Anne mengatakan bahwa seorang model tidak cukup dengan standar ukuran tinggi badan, namun seorang model yang mengenakan karyanya dan berjalan di atas catwalk harus bisa menghidupkan karya Anne.

“Dalam preview, saya sudah merequest model yang akan memperagakan karya saya. Bagi saya, seorang model harus memiliki aura yang nantinya akan membuat karya saya hidup, berisi, dan bernafas,” kata Anne.

Anne menambahkan, sama seperti pemilihan modal, dalam menampilkan karya-karyanya dia memiliki prinsip bahwa budaya tidak hanya dituangkan dalam pakaian, namun juga perilaku orang yang mengenakan pakaian tersebut.

“Menurut saya berbudaya tidak harus mengenakan batik, budaya itu melekat juga di perilaku. Kita harus sopan, santun dan berbudi luhur pada sesama, apapun pakaian kita,” kata Anne.

Anne mengaku preview showcase karya yang digelar di The Kasultanan Ballroom tersebut merupakan preview-nya yang berkesan. Sebab sebelum penyelenggaraan preview showcase, sebenarnya dirinya tengah sibuk tampil di berbagai acara. Namun dia tetap mempersiapkan karyanya untuk tampil di Kota Jogja.

“Secara manusiawi, tidak mungkin dengan kesibukan saya yang kemarin saya bisa mengiyakan untuk preview di Kota Jogja. Tetapi profesionalitas sebagai desainer harus tetap dijaga, saya akan menampilkan karya-karya terbaik saya,” kata Anne.