Peraih Emas OSN Asal DIY Ini Setiap Hari Berangkat Sekolah Naik Trans Jogja

Yuanditra San, siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta peraih emas dalam OSN 2018 kategori Kebumian, Sabtu (7/7/2018). - Harian Jogja/Sunartono
08 Juli 2018 09:17 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Yuanditra San berhasil menyumbangkan satu medali emas kategori ilmu kebumian dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2018 di Padang, Sumatra Barat yang dihelat sejak Minggu (1/7/2018) hingga Sabtu (7/7/2018).

Dalam keseharian, Yuanditra memiliki kebiasaan berbeda dengan siswa pada umumnya yang mengendarai motor. Ia justru setiap hari naik angkutan kota, Trans Jogja setiap pulang dan pergi ke sekolah.

Siswa yang biasa disapa Andi ini mengatakan, hampir sebagian besar provinsi di Indonesia merupakan pesaing berat, namun ia memetakan seluruh provinsi di Jawa dan Sumatera Barat dinilai paling berat sebagai pesaing. Namun, ia berhasil menyisihkan para pesaingnya, yang diawali dengan tes tulis, tes peraga geologi dan meteorologi dan dilanjutkan dengan tes lapangan oseanografi dan geologi.

"Jadwalnya agak terlalu padat, kurang waktu istirahat, kalau pas ada kesempatan istirahat saya langsung tidur, kalau yang paling sulit tes tulis," terangnya kepada wartawan di sela-sela penjemputan tim OSN di Bandara Adisutjipto, Sabtu (7/7/2018).

Siswa kelahiran 1 Februari 2001 ini mengaku, awalnya tidak suka mempelajari ilmu kebumian. Namun, secara perlahan ia rajin menekuni dan merasakan cocok hingga kemudian menyenangi keilmuan tersebut. Ia terpilih sebagai wakil DIY ke tingkat nasional setelah melalui seleksi berjenjang. Andi juga berharap bisa mengikuti seleksi untuk OSN tingkat internasional dalam bidang ilmu kebumian.

Prestasi yang diraih Andi bukan tanpa usaha. Selain belajar, ia tidak canggung hidup dengan kesederhanaan. Jika sebagian besar anak seusianya lebih banyak memilih berangkat naik motor, ia pulang pergi dari Kalasan, Sleman tempat tinggalnya menuju Jalan Kapas Umbulharjo Kota Jogja kampus sekolahnya, Andi naik angkutan Trans Jogja. Andi berencana membeli motor dari hasil jerih payahnya sendiri setelah mendapatkan uang pembinaan dalam OSN tersebut.

"Ya ditabung, tetapi mungkin saya ingin beli motor, karena selama ini berangkat sekolah naik angkutan Trans [Jogja]," kata remaja bercita-cita kuliah di Geologi UGM atau Meteorologi ITB ini.

Kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Slamet Poerwo mengaku bersyukur atas prestasi yang diraih Yuanditra, karena prestasi itu termasuk impian sekolah, apalagi terakhir kali SMA Muha memperoleh emas OSN pasa 2003 silam. Andi memang dari golongan kurang mampu, atas prestasi dengan NEM 36,7 saat masih di SMP Muhammadiyah 1 Depok, ia merekrutnya dengan memberikan beasiswa dari ikatan alumni Muha.

"Dia anak berprestasi dari golongan tak mampu, makanya kami beri beasiswa penuh dan biaya hidup Rp600.000 per bulan," ungkapnya.

Ia mengatakan, dalam mempersiapkan siswa OSN, pihaknya bekerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi seperti UAD dan UGM untuk pembimbingan serta mendatangkan alumni OSN. Khusus dari internal ada tim berjumlah lima guru yang bertugas melakukan pembimbingan terhadap siswa yang berpotensi bisa mengikuti OSN.

"Kalau di jenjang provinsi kemarin juara kedua," ujarnya.