Bertambah Usia, PGSP Ingin Lebih Dekat ke Masyarakat

Ratusan penonton saat menyaksikan Letto Band dalam puncak acara peringatan ulang tahun PGSP ke-3 di halaman PGSP di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Jumat (28/9/2018). - Harian Jogja/David Kurniawan
29 September 2018 17:17 WIB David Kurniawan Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) memperingati usia yang ketiga tahun ini. Di dalam peringatan, PGSP menggelar kegiatan bertajuk Sand Dunes Museum in Harmony, Jumat (28/9/2018).

Di dalam acara ini diisi berbagai kegiatan mulai dari jalan sehat yang melibatkan masyarakat sekitar, talkshow hingga konser musik dengan menghadirkan Letto Band. Diharapkan dengan kegiatan ini dapat mengenalkan keberadaan PGSP secara lebih luas.

Kepala Badan Informasi Geospasial, Hasanudin Z Abidin mengatakan, keberadaan PGSP hasil kerjasama yang melibatan BIG, UGM dan Pemkab Bantul. Sebelum direvitalisasi pada 11 September 2015 lalu, PGSP bernama Labortorium Geospasial Pesisir Parangtritis.

“Kita lakukan revitalisasi dengan visi utama menjadikan pusat layanan dan pengembangan informasi geospasial di bidang kepesisiran dan kemaritiman. Selain itu, keberadaan Museum Gumuk Pasir dijadikan sebagai lokasi wisata edukasi,” kata Hasanudin kepada wartawan, Jumat (28/9/2018).

Dia menjelasknan, peringatan ulang tahun ketiga PGSP bertema Sand Dunes Museum in Harmony. Acara ini diselenggarakan sebagai ruang berbaur secara harmoni antara mitra PGSP, baik dari anggota Barahmus, masyarakat di pesisir Parangtritis, pemkab hingga internal BIG.

“Untuk mencapai kesuksesan sesuai dengan cita-cita PGSP, tidak bisa dilakukan sendiri karena juga butuh peran dari masyarakat, insan permuseuman, akademisi dan pejabat publik sebagai pilar untuk menopang PGSP sebagai science park di DIY,” katanya.

Kepala PGSP, Nicky Setyawan mengatakan acara Sand Dunes Museum in Harmony berjalan dengan lancar mulai dari awal hingga penutupan dengan menghadirkan Letto Band. Menurut dia, masyarakat sekitar sangat antusias mengikuti acara untuk memperingati ulang tahun PGSP. “Kami senang karena acara ini juga sebagai upaya mendekatkan ke masyarakat,” kata Nicky.

Dia menjelaskan, keberadaan PGSP bukan semata-mata untuk kajian dan penilitan tentang kegeomaritiman dan gumuk pasir. Namun, keberadaannya juga sebagai wisata edukasi kepada masyarakat umum.

Meski demikian, lanjut dia, untuk tingkat kunjungan masih didominasi oleh akademisi atau pelajar yang ingin mengetahui tentang gumuk pasir dan geomaritim. “Kita ingin PGSP dikenal secara luas. Oleh karenanya, dengan kegiatan peringatan ulang tahun ini, masyarakat umum bisa lebih mengenal tentang fungsi dan peran dari PGSP,” tuturnya.

Menurut Nicky, kunjungan ke PGSP dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan signifikan. Sebagai gambaran di 2017 lalu, ada sekitar 11.500 pengunjung. Sedang di tahun ini, hingga pertengahan September kunjungan mencapai 11.200 orang.

“Memang kalau dibandingkan pengunjung pantai masih sangat kecil, tapi harapannya dengan perbaikan fasilitas serta adanya JJLS dapat makin mengenalkan PGSP ke masyarakat,” katanya.