Pasar Sentul dan Terban Sepi, Dewan Minta Intervensi Pemkot Jogja
DPRD Kota Jogja meminta Pemkot segera menghidupkan Pasar Sentul dan Terban yang masih sepi melalui strategi pengelolaan dan penataan pasar.
Foto ilustrasi. Beberapa gerobak sampah berjejer di depan depo pembuangan sampah sementara di samping Stadion Mandala Krida, Umbulharjo, Jogja, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja-Sirojul Khafid
Harianjogja.com, JOGJA—Volume sampah Ramadan di Kota Jogja tercatat meningkat sekitar 3% atau setara 10 ton per hari dari rata-rata 300 ton. Meski terjadi kenaikan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja memastikan tidak ada penumpukan di depo sampah karena sistem distribusi langsung ke offtaker tetap berjalan optimal.
Kepala DLH Kota Jogja Rajwan Taufiq menjelaskan tambahan volume sampah selama Ramadan masih tergolong wajar dan belum menyentuh angka 5% dari total produksi harian.
“Kalau naik, naik tapi nggak signifikan. Paling 3%an dari [volume sampah harian] 300 ton. Itu [kenaikan volume sampah selama Ramadan] ya sekitar 10 ton-an, nggak sampai 5% [dari volume sampah harian],” katanya, Selasa (3/3/2026).
Lonjakan volume sampah Ramadan di Kota Jogja dipicu aktivitas musiman, seperti Pasar Ramadan dan meningkatnya penjualan takjil di berbagai titik. Rajwan menyebut mayoritas tambahan tersebut berupa sampah organik basah yang langsung dipilah sejak dari sumbernya.
Sesuai standar operasional prosedur (SOP), sampah organik dari permukiman maupun lokasi kegiatan dikumpulkan dalam ember khusus berkapasitas 25 kilogram sebelum diangkut. “Sampah organik basah itu dibawa lewat penggerobak atau ke titik kumpul kelurahan, lalu langsung ke offtaker. Jadi sampah dari Pasar Ramadan itu tidak ke depo,” katanya.
Offtaker yang dimaksud merupakan pihak pemanfaat sampah organik, seperti peternak, yang mengolahnya menjadi pakan atau kebutuhan lain. Dengan mekanisme tersebut, distribusi sampah organik dapat langsung terserap tanpa membebani depo sampah di Kota Jogja.
DLH Kota Jogja juga telah melakukan sosialisasi sebelum Ramadan dimulai. Koordinasi dilakukan bersama lurah, mantri, penggerobak sampah, pengurus RT dan RW, hingga panitia kegiatan Ramadan. “Sebelum Ramadan sudah kami komunikasikan agar sampah organik ditaruh di ember yang sudah disediakan, kemudian ditempatkan di titik kumpul masing-masing kelurahan untuk langsung diambil offtaker,” katanya.
Rajwan menegaskan efektivitas pengelolaan volume sampah Ramadan di Kota Jogja dapat dilihat dari kondisi depo yang tetap terkendali. “Kalau dibawa ke depo tentu akan membludak. Tapi sekarang bisa dilihat, hampir semuanya kosong. Kalau pun ada isi, pagi sudah diangkat,” katanya.
Dengan skema pemilahan sejak awal dan pengiriman langsung ke offtaker, kenaikan volume sampah Ramadan di Kota Jogja sejauh ini tidak mengganggu sistem pengelolaan yang berjalan, sementara pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi peningkatan aktivitas masyarakat pada hari-hari berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Kota Jogja meminta Pemkot segera menghidupkan Pasar Sentul dan Terban yang masih sepi melalui strategi pengelolaan dan penataan pasar.
Spanyol berpotensi mencetak rekor 100 juta wisatawan pada 2026. Di balik lonjakan turis, warga mengeluhkan kepadatan, krisis hunian, dan biaya hidup.
BIGBANG resmi menjadi duta kehormatan pertama Badan Antariksa Korea. Pesan penggemar akan dikirim ke luar angkasa melalui roket Nuri.
Kisah Muhammad Ali Taher, pengusaha Palestina yang menyerahkan seluruh hartanya untuk membantu Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari Belanda.
Investasi langsung perusahaan Jerman di AS anjlok hampir dua pertiga secara tahunan menjadi hanya €4,3 miliar di semester I 2026—level terendah sejak 2023. Kebi
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi industri keuangan di DIY untuk memperkuat peran sektor jasa keuangan dalam mewujudkan