Perdamaian Dunia Makin Sulit Terwujud

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi saat memberikan kuliah umum dalam rangkaian kegiatan Diplomacy Festival di Balai senat UGM, Jumat (26/10/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
27 Oktober 2018 09:10 WIB Herlambang Jati Kusumo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi saat kuliah umum dalam rangkaian kegiatan Diplomacy Festival di Balai Senat UGM, Jumat (26/10/2018), mengatakan dunia saat ini semakin tidak ada kepastian stabilitas, perdamaian masih terus mendapat ancaman.

Ancaman terorisme, radikalisme belum juga mereda. Upaya untuk menciptakan kesejahteraan dunia semakin sulit dicapai, padahal semua memiliki komitmen untuk pembangunan Sustainable Development Goals 2030.

Banyak tantangan yang dihadapi dunia saat ini. Retno memberikan beberapa contoh kasus terbaru, mulai dari masalah pengungsi, pengiriman barang mencurigakan ke Amerika Serikat, hingga kasus pembunuhan wartawan Arab, Jamal Khasoggi. Dalam kasus pembunuhan jurnalis itu, ia mengharapkan Investigasi dilakukan secara teliti dan transparan dan pembunuh mendapat hukuman setimpal.

Menurut dia, negara-negara dihadapkan dua hal saat ini. Pertama, jika bicara politik luar negeri dan bicara kepentingan nasional, ada yang mengatakan politik luar negeri perpanjangan tangan politik dalam negeri. "Namun ada hal lain dari diplomasi yakni memberikan kontribusi terhadap perdamaian dan kesejahteraan dunia,” ujar Retno, Jumat (26/10/2018).

Rasa ketidakpedulian terhadap negara lain akan semakin memperburuk dunia. Akan muncul perang dan konflik yang tidak akan menguntungkan siapa pun, tidak membawa kebaikan siapa pun. Sangat tidak nyaman hidup di masyarakat yang saling tidak percaya, tidak saling menghormati dan ketakutan.

“Jangan sampai hal tersebut terjadi di Indonesia. Sudah banyak contoh kehancuran sebuah bangsa yang dimulai konflik internal dan semakin memburuk karena ada campur tangan pihak-pihak luar,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu pula Retno memotivasi para mahasiswa untuk dapat memiliki daya saing di dunia internasional. Menjelang peringatan Sumpah Pemuda, ia mengajak pemuda untuk menjaga dan merawat persatuan.
Wakil Rektor UGM Bidang Kerja Sama dan Alumni, Paripurna menyambut baik kegiatan Diplomacy Festival 2018, dan datangnya Retno mengisi acara kuliah umum. Dikatakan dia, diplomasi adalah kegiatan yang sudah berlangsung lama dan masih berjalan hingga sekarang.

“Banyak yang telah dilakukan bangsa Indonesia dalam diplomasi. Termasuk dalam kepemimpinan Ibu Menteri ini [Retno Marsudi]. Diplomasi tidak selalu menggunakan jas dan berbicara di panggung mewah. Diplomasi juga berarti turun ke bawah ketempat-tempat yang penuh konflik,” ujarnya.

Ia menyebutkan seperti yang dilakukan saat membantu TKI yang sedang tersandung masalah di Malaysia. Selain itu juga ia menyebutkan Retno menjadi Menlu pertama yang terjun turut ambil bagian menangani masalah Rohingya.
“Diplomasi merupakan perwujudan yang jelas ada dalam konstitusi dalam pembukaan UUD 1945. Di mana Indonesia turut menjaga perdamaian dunia,” ujarnya.