2020, Kelurahan Ini Patok Target Jadi Kelurahan Budaya

Wayang kulit saat dipentaskan dalam Pentas Seni Rintisan Kelurahan Budaya Cokrodiningratan, Sabtu (27/10/2018). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
28 Oktober 2018 14:20 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pada 2020, Kelurahan Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis, Jogja ditargetkan jadi kelurahan budaya. Saat ini, kelurahan tersebut masih berstatus sebagai Rintisan Kelurahan Budaya.

Ketua Rintisan Kelurahan Budaya Cokrodiningratan Baso Rangga mengatakan sejak ditetapkan sebagai Rintisan Kelurahan Budaya tahun ini, Cokrodiningratan terus melakukan pembenahan. Berbagai potensi yang ada di masyarakat satu per satu dihidupkan dan dikembangkan. "Tidak hanya pada aspek seni dan budayanya, kami juga terus menghidupkan aspek lainnya agar bisa berjalan beriringan," katanya di sela kegiatan Pentas Seni Rintisan Kelurahan Budaya Cokrodiningratan, Sabtu (27/10).

Aspek lain yang juga digerakkan, lanjut Baso, meliputi kuliner, heritage dan UMKM. Menurut dia semua aspek tersebut harus saling berkesinambungan guna mendukung Cokrodiningratan sebagai Kelurahan Budaya.

Cokrodiningratan, kata di memiliki 46 kelompok seni dan budaya namun baru 17 kelompok yang sudah terdaftar dan punya nomor induk kesenian. "Saat ini capaian kami baru 35 persen, pertengahan tahun depan targetnya 70 persen dan akhir 2019 targetnya 100 persen sehingga 2020 kami optimistis bisa meraih status sebagai kelurahan budaya," katanya.

Seluruh potensi yang ada di Cokrodiningratan akan didampingi dan terus dilatih agar bisa berkembang. Satu sama lain, menurut Baso, harus saling melengkapi agar status Rintisan Kelurahan Budaya bisa naik menjadi Kelurahan Budaya.

"Membangun kesadaran masyarakat ini yang sulit. Sebab kami tidak ingin kelompok yang ada, hanya tampil sekali setelah itu hilang. Kami ingin mereka bisa eksis dan tampil berkelanjutan," ucap Baso.

Salah satu siasat yang dilakukan, kata Baso, dengan melibatkan banyak anak-anak muda dalam setiap kegiatan seni dan budaya. Bahkan event yang digelar pun semuanya diampu sendiri oleh para pemuda. "Ini dilakukan agar tumbuh kecintaan mereka terhadap seni dan budaya. Kalau itu muncul, aspek lainnya akan hidup dan pariwisata bisa berkembang," katanya.

Sejumlah kelompok kesenian ditampilkan dalam pentas seni yang digelar sejak Sabtu-Minggu (27-28/10) itu dengan menghadirkan sejumlah kelompok seni seperti Kroncong Baciro, Sholawat Hadrah Kotabaru, Beksan Natanegara Gunungketur, Ketoprak Manggala Cakra Cokrodiningratan, Jasmine Band dan juga Wayang Kulit.

Kasubbag Umum Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Fitri Astuti mengatakan kegiatan pentas seni dan budaya yang digelar tersebut bagian dari pelestarian budaya untuk mendukung Keistimewaan DIY. Kegiatan tersebut mendapat sokongan dari dana keistimewaan (Danais) DIY melalui Pemkot. "Tujuannya untuk memotivasi kelurahan lain yang belum memiliki potensi kesenian dan belum menjadi kelurahan rintisan budaya, untuk bisa mengikuti jejak kelurahan yang berstatus rintisan dan juga kelurahan budaya," katanya.

Lurah Cokrodiningratan Narotama menjelaskan regenerasi dan budaya yang kurang tertanam masih menjadi tantangan. Dia berharap agar semangat sumpah pemuda tahun ini bisa memupuk generasi muda untuk lebih terlibat dalam melestarikan seni dan budaya.

"Yang terpenting adalah bagaimana atraksi seni dan budaya ini tetap bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Jangan hanya menyalurkan hobi tapi harus bisa menyejahterakan," katanya.