Air Sumur Asat, Warga Jogja Tuduh Dampak Pembangunan Apartemen

Warga mencoba sumur bor baru di masjid sekitar Terban, Rabu (21/11/2018) - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
21 November 2018 19:50 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Warga di sekitar proyek pembangunan Apartemen Dhika Universe mengeluh dalam beberapa pekan terakhir sumur mereka kering meski dibor beberapa kali. Warga menduga, asatnya air sumur tersebut terjadi sejak kontraktor menggunakan air tanah untuk pembangunan apartemen tersebut.

Iriyanti Udin, warga RT 2 Terban, Gondokusuman mengatakan ia sudah menghabiskan dana sekitar Rp1,7 juta untuk mengebor sumur yang dia miliki. Yanti bahkan melakukan pengeboran sebanyak tiga kali dalam sepekan terakhir. Namun air sumur tetap tidak mengalir. "Pengeboran pertama kedalaman 20 meter saya habis Rp900.000, yang kedua tambah lima meter habis Rp500.000 tetap tidak keluar airnya. Terakhir ditambah lima meter jadi 30 meter juga tidak keluar airnya. Akhirnya saya bayar Rp300.000," katanya, Rabu (21/11/2018).

Saat ini, dia terpaksa menggunakan sambungan PDAM agar bisa mendapatkan air bersih. Biaya yang dikeluarkan untuk instalasi air PDAM sebesar Rp1,3 juta. Biaya yang dikeluarkan dinilai sangat membebani apalagi suaminya saat ini tidak bekerja karena mengalami penyakit strok. "Ini semenjak proyek dibangun, bahkan mereka menggunakan air dalam sumur-sumur warga ikut mengering," kesalnya.

Kondisi serupa dialami Eka Puji, warga RT 2 Terban lainnya. Menurutnya, sepanjang tahun keringnya sumur warga baru terjadi tahun ini. Padahal katanya, saat kemarau panjang 2016 lalu kasus yang sama hampir tidak terjadi. Pada akhirnya, Eka menggunakan instalasi air PDAM meskipun hanya bisa dimanfaatkan pada malam hari.

"Di sini tiga tahun terakhir air sumur saya sedalam 17 meter tidak pernah asat. Tidak hanya di tempat saya, beberapa warga [tetangga] termasuk yang memiliki indekos juga mengalami hal sama. Padahal sumur sudah dibor lagi, air tetap tidak mengalir," katanya.

Bahkan, lanjut Eka, masjid di sekitar permukiman tersebut juga kesulitan air sehingga juga dilakukan pengeboran sumur baru. Saat Harianjogja.com mendatangi sumur tersebut, petugas baru mencoba bor sumur yang baru. Pasalnya, sumur lama sedalam 20 meter tidak bisa mengalirkan air. "Ini kedalamannya sudah 26 meter. Baru ada airnya," kata salah seorang petugas.

Yetti, warga terdampak lainnya juga mengutarakan hal yang sama. Bahkan, proyek tersebut juga menggunakan air sumur yang dibor sendiri. Padahal, pemrakarsa proyek awalnya berjanji tidak akan menggunakan air sumur tetapi hanya air PDAM. "Proyek juga dikerjakan sampai malam, sampai jam 22.00 WIB. Getarannya itu sangat menggangu," katanya.

Tulus WD, warga Terban lainnya mengakui jika warga di sekitar lokasi pembangunan proyek dalam beberapa hari terakhir mengeluh soal air sumur yang Asat. Padahal tidak naiknya air dari sumur warga bukan karena mesin pompa yang rusak tetapi akibat debit air yang menurun drastis. Kondisi tersebut terjadi semenjak pemrakarsa proyek menggunakan air dalam tanah untuk aktivitas pembangunan.

Menanggapi hal itu, Projects Director Apartemen Dhika Universe PT Adhi Persada Properti (APP) Damaryanda Pawitan menilai apa yang dikeluhkan warga tersebut masih harus dibuktikan secara ilmiah. Pasalnya secara Amdal perlakuan borepile (pondasi) proyek pembangunan apartemen tersebut tidak mengganggu air sekitar. Dia bahkan memiliki bukti kajian analisa dari UGM mengenai pondasi kami terhadap air sekitar.

"Dibuktikan saja. Kalau memakai sumur kami gunakan untuk siram-siram, itu sementara. Itu adalah sumur dangkal eksisting [sudah ada] yang berada di lahan atau persil milik kami," katanya.

Menurut Damar, pemakaian air tanah memang tidak diperbolehkan oleh Amdal. Hanya saja, hal itu dilarang saat apartemen beroperasi nanti. Ketika apartemen beroperasi, lanjut Damar, pihaknya mengaku full menggunakan aliran air dari PDAM. "Ya masa saya tidak boleh memakai sumur dangkal eksisting yang ada di lahan kami sendiri? Kenapa tidak diperbolehkan? Yang berhak memberhentikan dan mencabut izin kan instansi terkait," katanya.