Angguk Syariah, Cara Kulonprogo Memoles Tari Tradisional agar Tak Bikin Keki Kelompok Tertentu

Pementasan tari angguk di sebuah acara masyarakat di Kecamatan Kokap, Kulonprogo, Sabtu (15/12/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
31 Desember 2018 12:25 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Reputasi angguk, tarian khas Kulonprogo, telah diakui secara nasional. Namun, tidak semua orang berkenan dengan kesenian yang lahir sebagai ucapan syukur atas panen raya ini. Pemerintah pun memoles angguk agar bisa diterima semua kelompok masyarakat. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Jalu Rahman Dewantara.

Wajah Hasto Wardoyo tampak semringah. Senyumnya mengembang, matanya berbinar. Tangan kanan Bupati Kulonprogo itu menggenggam piala. Secarik kertas piagam dipegang dengan tangan kiri.

Hasto bungah. Kedua benda tersebut adalah kebanggaan, “cendera mata” dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), karena salah satu kesenian tradisional khas Kulonprogo, yaitu tari angguk berhasil menyabet Juara I Kategori Atraksi Wisata Terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2018.

Ajang penghargaan yang diselenggarakan Kemenpar itu meliputi 18 kategori.  Masing-masing memilih juara, runner up, dan peringkat ketiga. Kemenpar memakai istilah Juara I, Juara II, dan Juara III. Pada kompetisi ini, Kulonprogo dapat dua penghargaan. Tari angguk menjadi Juara I dan Objek Wisata Nglinggo menjadi Juara III pada kategori Eko Wisata Terpopuler.

“Kami atas nama pemerintah kabupaten dan masyarakat Kulonprogo bersyukur mendapat penghargaan API 2018 untuk tari angguk dan Objek Wisata Nglinggo. Ini menjadi apresiasi bagi kami dan semoga berkah,” ucap Hasto di ruang kerjanya, pada pertengahan Desember lalu.

Tari angguk menjadi kesenian tradisional yang mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten Kulonprogo. Ini terlihat dari pementasan 1.000 penari angguk untuk merayakan hari jadi ke-67 kabupaten berjuluk Bumi Binangun tersebut. Dalam berbagai kegiatan pemerintah dan masyarakat umum, khususnya yang berhubungan dengan hiburan, tarian ini tak pernah luput ditampilkan.

Angguk bahkan disebut sebagai identitas daerah dan menjadi suguhan untuk menyambut tamu.

Di Kulonprogo terdapat 40 sanggar tari angguk yang tersebar hampir di seluruh kecamatan. Di tiap-tiap sanggar terdapat puluhan penari baik yang telah terlatih maupun masih dalam tahap belajar. 

Merujuk dari laman Kementrian Kebudayaan Indonesia, angguk merupakan akulturasi  dari tari dolalak di Purworejo, kabupaten di barat Kulonprogo, yang kemudian dibawa masuk dan mulai hidup di Kulonprogo. Diperkirakan tarian ini mulai muncul sejak zaman Belanda, sebagai ungkapan rasa syukur kapada Tuhan setelah panen raya padi.

Kala itu, para muda-mudi menggelar acara dengan bernyanyi, menari sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dari sinilah kemudian melahirkan satu kesenian yang disebut sebagai angguk.

Tari angguk  menceritakan kisah Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono dalam Serat Ambiyo. Dalam pementasaannya juga dinyanyikan kalimat-kalimat yang ada dalam kitab Tlodo. Walaupun bertuliskan huruf Arab, syairnya dilagukan dengan cengkok tembang Jawa.

Tarian ini biasa dimainkan secara berkelompok oleh 15 penari yang berkostum menyerupai serdadu Belanda. Dihiasi gombyok barang emas, sampang, sampur, topi pet warna hitam, dan kaus kaki warna merah atau kuning serta mengenakan kacamata hitam, para penari berlenggak-lenggok selama kurang lebih satu jam.

Di pengujung pementasan, biasanya beberapa penari trans, masuk dalam kondisi tak sadarkan diri. Sebagian masyarakat percaya  penari angguk mengalami sejenis ekstase, dalam istilah lokal disebut ndadi, lantaran adanya sesajian untuk memanggil arwah yang merasuk ke tubuh para penari.

Pro dan Kontra

Bumbu-bumbu yang membuat tari angguk sedemikian populer itu menimbulkan pro dan kontra. Musababnya ada pada sesaji yang dianggap menabrak keyakinan agama serta lenggak-lenggok yang memperlihatkan lekuk tubuh perempuan.

Joko Mursito yang kini menjabat Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulonprogo tidak menampik kontroversi tersebut. Menurut pria berambut panjang ini, sejumlah kalangan menilai tari angguk tidak pantas. “Karena busana yang minim dan menyimpang dari ajaran agama,” ungkap Joko saat ditemui di sanggar keseniannya di Kecamatan Pengasih, beberapa waktu lalu.

Selama ini, angguk identik dengan celana pendek dan baju lengan panjang. Gerakannya didominasi goyangan pinggul dan bahu. Kedua hal itu yang menurut Joko bikin keki kalangan tertentu.

Untuk mengatasi masalah ini, jawatannya berinisiatif mengkreasikan tari angguk yang lebih inklusif, bisa diterima dan dimainkan seluruh kalangan masyarakat. Tarian tersebut dinamakan Tari Angguk Syariah. Nantinya, para penari mengenakan jilbab dan memakai gamis, rok atau celana yang cukup lebar agar lekuk tubuh tidak kelihatan.

Aksesori seperti topi dan hiasan bahu tetap akan dipasang untuk menjaga cirikhas tari ini tetap ada. Goyangan pinggul di Tari Angguk Syariah juga lebih diperhalus. “Kaus kaki, kaus tangan dan cadar juga akan melengkapi kostum para pemain,” tutur Joko.

Pementasan perdana Tari Angguk Syariah ini akan ditampilkan pada acara perayaan malam pergantian tahun di Taman Budaya Kulonprogo (TBK) Pengasih,  di hari terakhir 2018, Selasa (31/12) ini.

Penari yang terlibat adalah penari angguk konvensional karena mereka sudah berpengalaman. “Nanti kami lihat respons masyarakat seperti apa, apakah lebih suka yang asli atau versi ini [syariah].”