Kasus Bertambah, Cek Data Covid-19 di DIY 18 Maret
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
Penggagas Keripik Kembang Duren Mangros, Siti Qodriyah, menunjukkan produk olahan buah durian di Pasar Durian Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Minggu (30/12/2018)./Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara
Harianjogja.com, KULONPROGO—Tak ada yang menyangka bunga durian yang biasa dimanfaatkan untuk bahan pupuk ataupun pakan ternak ternyata mampu disulap menjadi keripik. Bernama Keripik Kembang Duren Mangros, camilan ini dapat ditemukan di Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang.
Keripik Kembang Durian Mangros berbahan dasar bunga durian menoreh, komoditas asli Desa Banjaroya. Dalam prosesnya bunga durian dilumuri tepung dan bumbu kemudian digoreng hingga bertekstur renyah. Tiap keripik berukuran sebesar bola kelereng dikemas dalam plastik transparan berstempel label sederhana dengan berat masing-masing 150 gram. Harga yang dipatok Rp10.000 hingga Rp15.000 per bungkus.
Penggagas Keripik Kembang Duren Mangros, Siti Qodriyah, mengatakan kreasi kuliner buatannya ini bermula dari iseng semata. Dia melihat durian menoreh yang tumbuh subur di Desa Banjaroya bisa diolah agar memiliki nilai jual yang tinggi.
"Tepatnya pada 2014 saya berpikiran untuk membuat olahan baru dengan harapan nilai jual durian tidak hanya buah saja, sehingga lahirlah keripik ini. Inovasi ini pernah menggondol predikat juara inovasi UMKM tingkat desa," kata Siti saat ditemui Harian Jogja dalam sebuah acara di Pasar Durian Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, akhir Desember 2018 lalu.
Selama ini, kata Siti, warga sekitar hanya memanfaatkan durian untuk dijual buahnya. Setiap masa panen yang dimulai Desember hingga Maret, warga menjual durian.
Dijelaskan Siti proses pembuatan keripik bunga durian diawali dengan membuat alas di kaki pohon sebagai wadah bunga durian yang gugur. Bunga itu kemudian dikeringkan. Bunga yang telah kering lalu direndam dalam air. Setelah itu dibersihkan lalu dibalur tepung dan digoreng. "Jadilah keripik kembang duren siap dikemas yang mampu bertahan hingga setahun," kata Siti.
Kepala Desa Banjaroya, Anton Supriyono, mengatakan produksi keripik durian merupakan salah satu kegiatan warga di desanya yang terus mengembangkan diri membuat produk khas desa. Selain keripik ada juga dodol durian dan jenang durian yang seluruhnya berbahan pokok durian.
Kemunculan produk-produk itu seiring dengan potensi utama desa penghasil durian menoreh yang menjadi komoditas unggulan. Tercatat terdapat 3.000 pohon durian yang ditanam di lahan seluas 20 hektare di Desa Banjaroya.
"Kondisi tanah di Banjaroya cocok ditanami durian khususnya varietas menoreh kuning. Belum tentu pohon asli menoreh kuning itu bisa ditanam di tempat lain. Komoditas ini kami manfaatkan sebaik mungkin sebagai potensi wisata," katanya.
Menurut Anton, kini warga di desanya menyadari pentingnya mengolah durian agar dapat memiliki nilai jual yang tinggi. Ini juga tidak lepas dari harus siapnya warga dalam menyambut kehadiran jalur Bedah Menoreh yang menghubungkan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) dan Borobudur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.
X batasi unggahan hanya 50 per hari untuk akun gratis. Kebijakan ini dorong pengguna beralih ke layanan berbayar.