Dana Tali Asih Penggarap PAG Belum Ada Kejelasan

Sri Sultan HB X (kiri) mendengarkan pemaparan progres pembangunan NYIA dalam peninjauan di lokasi bandara NYIA, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Selasa (8/1/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
19 Januari 2019 08:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Warga terdampak pembangunan New Yogyakarta Intenational Airport (NYIA) yang terdaftar sebagai penggarap tanah Paku Alam Ground (PAG) meminta kejelasan dana tali asih. Pasalnya hingga hari ini dana tersebut belum cair.

Padahal warga memerlukan bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup usai tergusur akibat bandara. Salah satunya diungkapkan warga bekas penggarap PAG terdampak NYIA dari Desa Glagah, Marsudi.
Dia membutuhkan dana talis asih ini guna membangun usaha baru setelah kehilangan lahan usahanya akibat pembebasan lahan untuk pembangunan NYIA. Namun demikian belum ada kejelasan. Hanya harapan semata agar dana tali asih ini bisa segera dicairkan.

"Kami hanya berharap itu bisa segera dicairkan, karena kami benar-benar butuh untuk membangun kembali hidup setelah kemarin merelakan lahan untuk bandara," kata Marsudi, Jumat (18/1).

Marsudi mengungkapkan proses pendataan penggarap beserta luasan lahan garapan masing-masing sebenarnya sudah dilakukan beberapa waktu lalu. Sesuai janji, dana Rp25 miliar akan dibagikan kepada warga penggarap. Pemerintah Desa Glagah lanjutnya memastikan bahwa proses ini sudah tuntas karena data telah diserahkan kepada Pemkab Kulonprogo. Namun hingga hari ini ternyata belum ada kejelasan.

Adapun sesuai pendataan pihak desa dengan paguyuban penggarap beserta Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (PTR) Kulonprogo terdapat ratusan warga penggarap masuk data nominatif sebagai calon penerima dana tali asih. Ratusan warga ini dari empat desa terdampak, yakni Jangkaran 121 orang, Sindutan 69 orang, Palihan 182 orang, dan Glagah 476 orang.

Tiap penggarap sesuai kesepakatan mendapat dana tali asih senilai Rp15 ribu per meter persegi untuk lahan garapannya. Warga penggarap juga telah membuat rekening bank masing-masing guna pencairan dana lewat skema transfer.

Kepala Bidang Pertanahan, Dinas PTR Kulonprogo, Sugimo mengaku belum mengetahui kelanjutan dana tali asih tersebut. Namun dia memastikan data nominatif para penggarap lahan sudah disampaikan oleh Bupati kepada Pura Pakualaman lewat surat pada 19 Desember 2018 lalu.

"Sampai sekarang belum ada informasi lagi dan kami belum tahu kelanjutannya. Apalagi, kemarin PA habis mantu (menikahkan anaknya)," kata Sugimo.

Pura Pakualaman sebagai pemilik lahan sebelumnya menjanjikan dana kompensasi berupa tali asih bagi para warga bekas penggarap yang terdampak pembangunan NYIA. Totalnya mencapai Rp25 miliar pada lahan garapan seluas 1.602.988 meter. Dana tersebut diambil dari hasil ganti rugi pembebasan lahan PAG seluas 160 hektare oleh PT Angkasa Pura I sebesar Rp701,512 miliar yang sebelumnya dikonsinyasikan di Pengadilan Negeri Wates.