Ada Gumuk Pasir, Pasar Kota Gede dan Kinjeng Wesi di YIA

Sejumlah pekerja tengah beraktivitas di area terminal keberangkatan YIA, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulonprogo, Selasa (3/3). (Harianjogja.com - Jalu Rahman Dewantara)
04 Maret 2020 19:12 WIB Jalu Rahman Dewantara Jogja Share :

Sejumlah infrastruktur di Yogyakarta International Airport (YIA) yang menggambarkan kearifan lokal DIY mulai menampakkan wujudnya, menjelang operasional penuh pada 29 Maret mendatang. Bagaimana kondisinya? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Jalu Rahman Dewantara.

Alunan suara gending jawa terdengar menggema di depan terminal keberangkatan YIA, Selasa (3/3). Suara yang begitu lembut itu seakan menyambut kedatangan Harian Jogja yang baru saja tiba. Bersama sejumlah awak media, kedatangan ini dalam rangka menengok kondisi terkini YIA sebelum dioperasikan penuh pada akhir bulan ini.

Didampingi Project Manager Pembangunan YIA, Taochid Purnama Hadi, kami diajak berkeliling menyusuri setiap sudut bandara. Utamanya di area terminal yang dalam operasional penuh nanti sudah bisa melayani penumpang untuk penerbangan internasional.

Sebelum memasuki terminal, rombongan melewati sebuah gerbang berwarna putih polos. Gerbang setinggi hampir lima meter itu begitu unik karena bentuknya mirip dengan gapura yang biasa dijumpai di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau rumah-rumah bangsawan Jawa zaman dahulu.

"Konsep gerbang ini terinspirasi dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang disebut regol, memang sengaja kami tempatkan di sini biar ketika masyarakat datang langsung bisa merasakan nuansa Jogja," ujar Taochid yang dalam kesempatan itu menjadi tour guide.

Gapura seperti itu ternyata tidak hanya satu, melainkan ada tiga. Masing-masing ditempatkan di depan tiga pintu masuk terminal menuju ruang check in terminal keberangkatan.

Memasuki ruang terminal keberangkatan, kita disuguhkan pelbagai ornamen. Salah satu yang cukup menyita perhatian yakni ornamen berbentuk piramida yang sekilas mirip Monumen Jogja Kembali (Monjali). Namun Taochid menyebut jika ornamen berbahan batu granit itu adalah gambaran gumuk pasir di kawasan Pantai Depok dan Parangtritis, Bantul.

Di ruangan yang sama juga terdapat ornamen Bunga Wijaya Kusuma. Ornamen itu terpasang di dinding menuju pintu masuk ruang tunggu kedatangan pesawat. Adapun ornamen tersebut menyimbolkan rangkaian bunga yang biasa digunakan dalam penyambutan selamat datang untuk penumpang maupun tamu-tamu penting.

Dalam perjalanan menuju ruang tunggu penumpang, terpasang sejumlah tiang lampu setinggi empat meter dan tiang dengan tinggi yang lebih pendek (sekitar dua meter) yang difungsikan sebagai tempat memasang CCTV. Tiang ini memiliki bentuk yang mirip dengan tiang-tiang lampu di Jalanan Malioboro. Berwarna hijau dan menampilkan kesan klasik. "Untuk tiang lampu dan tiang CCTV ini memang kami pesan langsung dari pembuat tiang untuk jalanan di Kota Jogja. Kami minta desainnya semirip mungkin dengan yang ada di jalan Malioboro," ujar Taochid.

Memasuki ruang tunggu keberangkatan, terdapat Patung Bedhaya Kinjeng Wesi yang siap menyambut penumpang. Karya patung ini menyimbolkan gerakan pesawat terbang dan visualisasi gerakan tari Bedhaya Kinjeng Wesi (capung besi) yang diciptakan khusus untuk kemudian didekasikan sebagai tarian ikon YIA. Patung bermaterial cor aluminium dan stainles ini ciptaan seniman Ichwan Noor.

Di ruang tunggu ini pula akan ditempati tenant-tenant UMKM bertajuk Pasar Kota Gede. Taochid mengklaim YIA menjadi satu-satunya bandara yang punya ruang khusus untuk UMKM yang luasnya mencapai 1.500 meter persegi. UMKM dipilih dan dikurasi oleh Dinas Koperasi UMKM DIY.

"Insyaallah tanggal 29 Maret pas operasional penuh, Pasar Kota Gede ini bisa dibuka, Sekarang sedang fitting out," ucapnya. Konsep Pasar Kota Gede sendiri dipilih karena pasar tersebut menurut Taochid begitu ikonik dan menggambarkan Kota Jogja.

//Gelontorkan Rp60 Miliar

Secara garis besar konsep yang diusung YIA yakni Jogja Renaisans yang secara ringkas diartikan YIA sebagai kelahiran kembali wajah Jogja yang berbudaya. Adapun karya seni dan infrastruktur unik itu dikerjakan oleh Tim Art Program di bawah naungan PT. Cipta Anak Bangsa dengan total biaya pembuatan mencapai Rp60 miliar. "Biaya yang kami keluarkan untuk semua karya seni dan infrastruktur bercorak kedaerahan ini sekitar Rp60 miliar, sangat besar memang, tapi tidak apa-apa, ini biar pengguna jasa pesawat ktika sampai sini bisa langsung merasakan atmosfer Jogja," ucap Taochid.

Dana Rp60 miliar itu termasuk untuk pembuatan papan nama YIA berkonsep bangunan Semar Tandu, patung Hamemayu Hayuningrat dan Gunungan Wayang yang semuanya dibangun di sekitar pintu masuk bandara. Dana ini juga digelontorkan untuk membikin miniatur Tamansari dan lima ornamen yang menggambarkan kekhasan lima desa terdampak pembangunan YIA, yakni Desa Sindutan, Glagah, Kebonrejo, Palihan dan Jangkaran.

Untuk miniatur Tamansari, bisa dijumpai di depan terminal penjemputan yang terletak di lantai dasar terminal. Sementara ornamen berciri lima desa terdampak ditempatkan di lantai tiga terminal kedatangan.

Taochid mengatakan infrastruktur dan karya seni ini dipastikan telah siap menyambut kedatangan penumpang pesawat dalam operasional penuh mendatang. "Untuk saat ini, progres pembangunan sudah 94%. Artinya tersisa untuk finishing," ucapnya. (jalurahman@harianjogja.com)