Berkat Tulisan Kekerasan Seksual di UGM, Dua Wartawan Balairung Diganjar Penghargaan

Ratusan mahasiswa menandatangani petisi penolakan terhadap kekerasan seksual saat aksi damai UGM Darurat Kekerasan Seksual di Kampus Fisipol UGM, Sleman, Kamis (8/11/2018). - Harian Jogja/Gigih M. hanafi
31 Januari 2019 13:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :


Harianjogja.com, JAKARTA--Wartawan Balairung Press UGM, Citra Maudy dan Thovan Sugandi yang menulis kisah mahasiswa UGM yang diduga diperkosa teman sekelompoknya, diganjar penghargaan Oktovianus Pogau. Keberanian mereka meliput kekerasan seksual di kampus mengantarkan keduanya mencapai penghargaan itu.

“Citra dan Thovan berani lakukan liputan peka soal kekerasan seksual di kampus. Harapannya, liputan ini akan mendorong usaha serupa di kalangan media, umum maupun mahasiswa, guna membela para korban kekerasan seksual,” kata Andreas Harsono, ketua dewan juri penghargaan Pogau dari Yayasan Pantau, dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Kamis (31/1/2019).

Citra Maudy adalah mahasiswa sosiologi UGM dan bergabung dengan Balairung sejak 2016 sebagai reporter. Kemudian dia menjadi redaktur pelaksana sejak 2017. Ia biasa menulis menulis feature, laporan utama, dan hard news.

Sementara Thovan Sugandi adalah mahasiswa filsafat UGM dan bergabung dengan Balairung sejak 2015. Pada 2018, ia ditunjuk sebagai redaktur serta menyunting laporan Citra. Thovan juga anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan pernah menjadi redaktur Jurnal Tradisi PMII periode 2016-2018.

Tulisan Citra dan Thovan yang terbit pada 5 November 2018 berjudul “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan”. Isinya menceritakan kisah mahasiswa Fisipol UGM, Agni (bukan nama sebenarnya) yang diduga diperkosa oleh rekan satu kelompok berinisial HS dari Fakultas Teknik UGM, saat menjalani KKN di Pulau Seram, Maluku pada pertengahan 2017.

Citra menceritakan kronologis kejadian tersebut dengan detail. Dalam laporan “Malang Melintang Penanganan Pelecehan Seksual di Kampus”, Balairung menyatakan bahwa pelecehan seksual terjadi di banyak lingkup kegiatan mahasiswa. Kasus “Agni” ibarat puncak gunung es.

Laporan tersebut mendapat perhatian masyarakat. Media lokal maupun nasional menerbitkan berita-berita lanjutan. Dukungan juga datang dari masyarakat lewat sebuah petisi mencari keadilan bagi Agni. Pihak rektorat juga membentuk komite etik untuk memeriksa kasus ini.

“Yayasan Pantau menghormati pemeriksaan yang dilakukan polisi maupun Universitas Gadjah Mada namun kami juga percaya pelecehan seksual adalah gejala yang mengkhawatirkan di berbagai kampus di Indonesia. Kami menghargai keberanian Citra dan Thovan terlepas hasil dari pemeriksaan terhadap kasus ini," kata Harsono.

Terkait Oktovianus Pogau, Harsono menjelaskan bahwa dia adalah pria yang lahir di Sugapa, 5 Agustus 1992 dan meninggal di usia 23 tahun pada 31 Januari 2016 di Jayapura. Ia seorang penulis sekaligus aktivis yang menggunakan kata-kata untuk berdiskusi dan mengasah gagasan-gagasan politiknya. Dia bersimpati kepada Komite Nasional Papua Barat, organisasi pemuda Papua, yang menggugat pemerintahan Indonesia terhadap Papua Barat.

Pogau dianiaya polisi ketika meliput demonstrasi KNPB di Manokwari pada Oktober 2012. Organisasi wartawan tempatnya bernaung menolak melakukan advokasi. Alasannya, Pogau tak sedang melakukan liputan namun melakukan aktivitas politik.

Keberanian dalam jurnalisme serta keberpihakan pada orang yang dilanggar hak mereka membuat Yayasan Pantau menilai Oktovianus Pogau sebagai model bagi wartawan Indonesia yang berani dalam meliput pelanggaran hak asasi manusia dalam berbagai aspek.